Minggu, 14 Juni 2015

Cerpen Islami :)

Setitik Cahaya Untuk Ibuku



Cerpen Karangan: Endah Nisrinasari



Hujan deras mengguyur permukaan bumi. Tajamnya pedang sang Kuasa membelah awan, menggelegarkan suara, menampakkan kilatnya.
Nampak miris dilihat, seorang wanita tengah dihujami jutaan tetes air, ditusuk tiupan angin. Tubuh lemahnya menggigil hebat. Bahkan air mata yang sebenarnya mengucur deras sudah tidak kentara, karena hebatnya guyuran air.

Sinar matanya redup, tidak ada binaran di sana. Aisyah. Wanita berusia dua puluh tiga tahun ini memiliki sebuah mutiara. Anisa. Mutiara satu-satunya yang ia miliki. Namun apa daya, ia telah pergi dari pangkuannya sekarang.
Saat baru mengenal kata ‘Pacar’, ia sudah berubah menjadi gadis yang pembangkang. Ya, Aisyah dulu adalah remaja yang hamil dibawah usia atau hamil diluar nikah. Itu pun karena kecerobohannya sendiri, membiarkan lelaki masuk ke rumahnya, lalu lelaki itu diberi kebebasan untuk memasuki berbagai ruangan. Semenjak saat itu Aisyah diusir oleh kedua orangtuanya, keluarga dan kerabatnya tidak mau membantu Aisyah sama sekali. Namun, dengan seiring bergulirnya waktu ia dapat berubah. Berubah karena sang mutiara.

“Maafkan Ibu, Nak! Andai ibu bisa menggantikan posisimu, ibu akan melakukannya. Ya Allah, kenapa tidak ambil hamba saja? Aku sudah buta dan terlalu banyak dosa. Kenapa bukan aku?”
Ibu berjilbab hitam pekat itu masih tetap terduduk lemas di tengah-tengah hujan lebat, di dekat gundukan tanah yang berpatok nama mutiara yang amat sangat ia sayangi. Pikirannya melayang, melambung tinggi, mengingat masa lalunya…
“Assalamualaikum. Ibu lihatlah aku mendapat juara satu,” gadis mungil berjilbab putih tengah berlari dengan ceria sambil menggenggam kalung berbandul emas bulat berpahat ‘Juara Satu Tadarus Al-Quran’.
“Wa’allaikum salam. Wah, benarkah? Putri ibu dapat juara satu?” Ibu itu, Aisyah. Ia segera berdiri dari duduknya walau dengan bersusah payah saat mendengar suara putrinya.
“Iya, juara satu tadarus. Aku bisa mengaji dengan benar dan lancar. Jadi, aku bisa mendapatkan ini dan ini. Yang ini untuk Ibu,” Anisa tersenyum bangga sambil menunjukkan kalung bertali warna-warni, lalu memberikan sebuah amplop kecil di atas telapak tangan sang ibu. Anisa sebenarnya tidak tahu isi amplop itu, jadi ia serahkan saja pada Ibunya.
Aisyah tersenyum bahagia. Ia sangat menyadari kalau putrinya fasih membaca kitab suci Al-Quran. Bahkan sekarang Anisa sudah hafal juz satu Al-Quran. Aisyah tidak tahu mengapa putrinya bisa secerdas ini. Tapi ia yakin bahwa kecerdasan mutiaranya adalah pemberian dari Allah SWT.
Miris memang. Ia tidak tahu seperti apa rupa wajah putrinya sekarang. Yang ia tahu adalah mutiaranya bahagia, mutiaranya begitu menyilaukan.
“Bu, nanti Nisa kalau lulus SD Anisa mau ke sekolah favorit. Boleh, ya?” Anisa nampak harap-harap cemas.
Aisyah hanya mengangguk pelan. Sebenarnya ia bingun harus mencari uang ke mana. Sudah buta hanya tukang sayur pula.
“Ya Allah, harus ke mana hamba mencari uang untuk putri hamba? Andai saat itu Engkau tidak memberikan putri hamba cobaan, aku pasti bisa membahagiakannya.”
Aisyah melamun, ia benar-benar berpikir keras kali ini. Bagaimana tidak berpikir keras? Untuk makan saja masih kurang, apalagi untuk membiayai masuk ke sekolah favorit? Pasti sangat mahal, ia tahu di mana sekolah yang diinginkan putrinya itu. Espero. SMP Negeri Loro (dua) Ngawi.
Allah SWT tidak akan memberikan cobaan yang melampaui kemampuan hambanya. Namun, apa daya? Ini adalah cobaan. Allah memberikan cobaan bukan berarti tidak sayang, melainkan Allah ingin menguji ketaqwaan hamba-Nya. Di setiap cobaan pasti Allah SWT akan ada jalan keluar.

Sejak saat Anisa mencetuskan ingin melanjutkan ke sekolah favorit, ia semakin giat belajar. Tiap naik kelas ia selalu mendapatkan juara satu baik di sekelas maupun juara umum sekolah. Yang lebih menakjubkan ialah Anisa dapat menghafal tujuh juz Al-Quran saat ia lulus sekolah dasar.

Ketika lulus sekolah dasar, Aisyah tentu kerepotan dengan masalah Anisa yang ingin melanjutkan sekolah ke sekolah menengah pertama favorit. Namun sirna sudah, lenyap semua kekuatirannya. Berkat kecerdasan yang dianugrahkan oleh Allah kepada Anisa, ia (Anisa) mendapat biaya siswa.

Allah SWT maha pemurah, pengasih, lagi maha penyayang. Sesungguhnya ia akan mengabulkan doa setiap hamba-Nya yang mau beramal soleh dan mendirikan sholat. Allah tidak pernah membedakan manusia dari paras dan harta. Ketaqwaan itulah yang membedakan manusia di hadapan Allah SWT.

Anisa melewati masa pendidikannya dengan lancar, bahkan ia sempat loncat kelas beberapa kali. Setiap adsministrasi apapun selalu gratis. Itu karena kecerdasannya yang dititipkan oleh Allah. Bahkan Anisa sudah dijamin untuk menuntut ilmu di sekolah menengah atas favorit, Smada, SMA Negeri 2 Ngawi secara gratis.
Kini Anisa sudah tumbuh menjadi gadis solehah, cantik amalnya, dan cantik parasnya. Kulitnya kuning langsat, mata bulat teduh bagaikan lentera, senyum manisnya selalu mengundang semut yang selalu mencari kemanisan. Suara lemah lembutnya begitu indah menabrak indra pendengaran, didengar seribu kali pun tidak akan pernah bosan untuk mendengarnya. Bahkan daun telinga akan merindukan getaran merdu yang ia tangkap bila sedetik tidak mendengarnya.
“Bisamillaahir Rahmaanir Rahiim..
Wat tiini waz zaytuun. Wa tuuri siiniin. Wa haazal baladil amiin. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim. Tsumma radadnaahu asfala saafiliin. Illal laziina aamanuu wa ‘amilus saalihaati falahum ajrun gayru mamnuun. Famaa yukazzibuka ba’du biddin Alaysallahuu bi-ahkamil haakimiin.” ( Q.S. At-Tin: 1-8 )
Suara merdu Anisa memenuhi ruang sunyi. Setiap makhluk Allah diam untuk mendengar suaranya. Bahkan batu sekali pun juga ikut menyimak Anisa. Hanya ada hampa di sekelilingnya. Rumah reot berdinding anyaman bambu seakan menjadi saksi amalan Anisa.
“Sadakallah huladziim,” Annisa tersenyum sambil menutup lembaran tebal yang terbalut sambul berpola indah. Lalu ia menoleh ke arah sang Ibu, “Alhamdulillah. Allah SWT memang hakim yang paling adil, Nak. Suara putri ibu merdu sekali, tajuwidnya sudah benar. Sekarang hafal berapa juz, Nak?”
Aisyah yang sedari tadi duduk bersila di dekat mutiaranya nampak berseri-seri. Lebih segar dari sebelumnya setelah mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran.
“Allah memang selalu adil, Bu. Itulah jawaban dari surat At-Tin ini. Alhamdulillah semua berkat Ibu yang selalu mengajariku. Terimakasih, Ibu. Alhamdulillah, Anisa sekarang sudah hafal lima belas juz.”
“Alhamdulillah. Nak, bukankah esok adalah hari pengambilan raport sisipan?” Suara lembut Aisyah nampak bervibrasi.
“Iya, Bu. Yang mengambil raport harus orangtua, memangnya ada apa? Bukankah Ibu sudah kuberi tahu sejak kemarin-kemarin?”
Anisa meletakkan kitab suci Al-Quran di atas meja kecil yang berada di samping kanannya, lalu melepas mukena putih kecoklat-coklatan yang ia kenakan.
“Apa ada mas..”
“Tidak, tidak ada masalah sama sekali, Nak,” Aisyah langsung memotong cepat.
Ya Allah, hamba tidak punya baju bagus yang terbuat dari sutra, hamba tidak punya pakaian yang semewah ratu. Pasti putri hamba akan malu kalau hamba datang dengan pakian kumel, jelek, lusuh.
Aisyah termangu, ia tidak bisa datang. Ia tak mau mutiaranya jatuh. Ia tak mau mutiaranya berubah menjadi usam dan tidak bersinar lagi.
“Ibu, Anisa berangkat dulu. Nanti Ibu harus datang tepat waktu. Anis tunggu di depan sekolah. Kalau begitu, Anis berangkat. Wassalamu’alaikum,” Anisa berucap dengan semangat, ia tidak menyadari raut wajah sang Ibu. Dengan segera ia menyalami Aisyah.
“Iya, hati-hati di jalan. Wa’allaikum salam.”
Aisyah melengkungkan bibirnya membentuk sabit baru. Ingin sekali rasanya ia bilang pada Anisa kalau ia tidak punya baju bagus untuk mengambil raportnya nanti. Ia yakin, pasti nanti Anisa akan malu dan dicemooh oleh teman-temannya nanti bila ia memakai baju yang jelek. Tidak, Aisyah tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
Dengan perlahan wanita berkerudung hijau tua berpipi tirus itu berjalan menggunakan tongkat kayu rapuh. Dengan segala ingatannya ia mencoba menghitung langkah menuju ke luar rumah. Kali ini bukan untuk berjualan di pasar, tapi ingin pergi ke rumah tetangga. Hanya satu tujuan, yaitu meminjam baju.

Allah SWT telah mengirimkan bidadari-bidadari pelindung ke bumi. Suatu ketika bayi mungil bertanya kepada Allah SWT saat ia hendak diturunkan ke bumi, Ya Allah, siapa yang akan melindungi hamba bila aku turun ke bumi sendirian? Bukankah banyak orang jahat yang bisa saja menyakitiku? Allah SWT berfirman yang artinya, Sesungguhnya bila engkau turun ke bumi nanti, sudah Kusiapkan seorang malaikat pelindung yang akan melindungimu. Bahkan ia rela mati hanya untuk melindungimu.

Mentari mulai di junjung tinggi oleh peraduan. Memancarkan sinar yang menerpa setiap makhluk yang berada di bumi. Borosnya intensitas cahaya membuat siapa pun yang melihatnya akan memejamkan matanya. Silau. Tapi tidak dengan wanita separuh baya yang mengenakan jilbab berwarna kuning gading itu. Walau wajahnya berseri namun hatinya tidak berseri seperti wajahnya. Hatinya resah, ia takut kalau pakaian yang ia pinjam dari tetangganya tidak sebagus milik para wali yang datang ke sekolah mutiaranya. Pakaian itu begitu sederhana, hanya sebuah gamis orange berbatik bunga-bunga anggrek kering yang menjuntai ke bawah. Setidaknya ini adalah pakaian terbaik yang tetangganya miliki. Masih syukur tetangga mau meminjami, coba kalau tidak? Aisyah hanya akan memakai daster batik murahan.
“Maaf, ada orang di sini? Bisa tolong bantu saya?” Aisyah mengeraskan suaranya yang lembut. Ia berhenti berjalan.
Pernah suatu ketika Aisyah diajak oleh Anisa menuju ke sekolah, tentu dengan berjalan kaki. Secara diam-diam, Aisyah menghitung langkah kaki dan menghafal arah jalan. Aisyah masih ingat betul, namun ia ingin tahu sudah sampai di manakah ia? Sampai di depan sekolah atau masih berada jauh dari tempat sang mutiara menunggu?
“Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” Suara berat seorang pria berbadan besar membuat Aisyah merinding.
“Saya hanya ingin bertanya, apa ini sudah dekat dengan Smada?”
“Sudah, Bu. Hanya tinggal beberapa meter saja. Mari saya antarkan.”
Gadis cantik dengan seragam batik berwarna pink dan rok menjuntai ke bawah berwarna putih sedikit lusuh masih setia berdiri di dekat gerbang sekolah. Jilbabnya yang tak seputih susu terlihat luncek di bagian ujung depan. Sedari tadi ia meremas-remas ujung jilbabnya, harap-harap cemas menanti kehadiran sang malaikat penjaganya.

Sebenarnya Allah SWT tidak pernah tidur, ia selalu memandang hambanya. Sesungguhnya, Allah SWT selalu berada di samping kita. Malulah kamu dengan perbuatan dan perkataan buruk yang kau lakukan dan ucapkan saat Allah SWT selalu bersamamu.

Anisa berjalan sambil menuntun sang malaikat yang terlihat memasang lengkungan sabit baru di bibir keringnya. Sesekali Anisa tersenyum pada teman-temannya yang menyapa. Tidak sedikit cemoohan yang telah Anisa dengar selama perjalanan menuju kelas untuk mengantar Aisyah. Anisa sangat bersyukur sang Ibu tidak mendengar ocehan tidak jelas dari teman-temannya. Walau demikian, Anisa tetap memberikan senyum lembutnya pada teman yang mencemoohnya.
“Nak, apa kelasmu masih jauh?” Aisyah nampak berkeringat.
“Sudah dekat, Bu.”
Setelah mengantarkan Aisyah masuk ke kelasnya dan duduk di bangku dengan beberapa wali yang lain, Anisa bergegas ke luar kelas.
“Eh, ternyata Ibu Anisa buta. Ya, sayang banget, anaknya pintar jurusan IPA kelas unggulan, waktu SD dan SMP sering loncat kelas, cantik, tapi Ibunya buta,” suara mlengking dari samping kiri tempat Anisa berdiri tentu membuat Anisa menoleh cepat.
“Am, dengar-dengar keluarga Anisa juga udah pecah kaya kapal pecah,” imbuh teman laki-laki Amy, Avega.
“Masaksih, Veg?”
“Iya.”
Anisa menghela napas kasar, kesabarannya benar-benar diuji sekarang. Mata lentera miliknya terpejam kuat, napasnya nampak tersenggal. Jari-jari lentiknya mengepal kuat-kuat. Wajahnya sudah merah menahan hasrat kemarahan yang dipendam.
“Sabar, Nis!” Suara berat dari sahabatnya membuat Anisa mengelus dada. Rezha.

Mutiara tidak selalu berkilau, terkadang ada kalanya untuk redup dan usam. Mutiara akan selalu digesek untuk mendapatkan keindahan yang sesungguhnya. Mutiara akan selalu diterpa gelombang, namun terkadang ia bersembunyi di balik karang. Berlindung.

Ketika Allah SWT hendak menurunkan seorang bayi ke bumi, bayi tersebut kembali bertanya, Lalu siapa yang akan merawat hamba? Apakah hamba harus hidup sendirian? Siapa yang akan menyayangiku? Allah SWT berfirman yang artinya, Sesunguhnya telah Kukirimkan malaikat untuk merawat dan menyayangimu dengan sepenuh hati. Maka sayangilah ia melebihi dirimu sendiri.

Anisa masih melamun, sedari tadi pikirannya penuh dengan asap-asap kelabu yang menyelimutinya. Di rumah reot yang beratap lubang-lubang itu napasnya terasa makin sesak ketika mengingat setiap perkataan teman-temannya. Semenjak kedatangan sang Ibu yang mengambil raport sisipan miliknya beberapa hari yang lalu, Anisa terus dicemooh. Bahkan sindiran itu terasa lebih menancap dari yang sebelumnya.
“Dengar-dengar, Ibu buta itu mengandung Anis di luar nikah mencampakkannya.”
“Katanya sih keluarganya miskin karena ulah Ibu si Anis sendiri.”
“Ah, sebenarnya kalau menurutku, Ibu Anis yang salah.”
“Ih, cantik-cantik kok miskin. Ibunya buta lagi, parahnya dia anak haram.”
Sekelabat perkataan pisau itu menyerang ulu hatinya. Matanya memanas, jemari panjangnya mengepal kuat, wajah ayunya memerah. Dapat didengar dengan jelas deruan napas memburu. Sungguh, mata lenteranya terbakar oleh apinya sendiri, kilatan amarah terlihat jelas sekarang.
Dengan langkah tergesa-gesa Anisa menghampiri Aisyah sang Ibu yang sedang berada di depan rumah. Ibu bermata hati itu tengah mempersiapkan sayur yang ditata di atas gerobak untuk dijual di pasar.
“Ibu! Apa benar kalau Ibu hamil di luar nikah? Dan apa karena Ibu juga kita jadi miskin? Apa anak itu adalah aku?” Tak ada lagi nada suara Anisa yang lembut, yang ada adalah suara Anisa bak petir membelah langit.
“Nak, kamu kenapa?” Suara Ibu Anisa melemah.
“Jawab saja!”
“Kamu tahu dari mana?” Suara parau sang Ibu tidak membuat Anisa terhenyak ataupun merasa bersalah. Ia bernar-benar kalah oleh setan.
“Dengan pertanyaan itu, kusimpulkan kalau jawabannya adalah IYA. Sekarang, Ibu pergi! Cari uang yang banyak! Aku tidak ingin melihat Ibu pulang dengan tangan kosong, bawakan aku uang yang bayak!”
Aisyah terlonjak kaget, matanya berair. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan kalau mutiaranya akan menghitam seperti ini. Seketika air matanya menetes tanpa henti. Kegelapan yang dirasakan oleh Aisyah semakin dalam saja, tidak hanya di mata di hati pun juga.
“Kamu bukan Anisa putriku. Kamu siapa?” Suara lembut Aisyah semakin bervibrasi hebat.
“Sudah kubilang, pergi! Cepat cari uang yang banyak!”
Hancur sudah perasaan Aisyah. Ulu hatinya terasa perih. Dengan perlahan kesadarannya mulai kembali, akal sehatnya mulai berlogika kembali. Langkah pendeknya ia mulai untuk mendorong gerobak tua yang ditumpangi berbagai macam jenis sayur.
“Ya, sana cepat pergi!”
“Ya Allah, apa yang Engkau lakukan pada putri hamba? Mengapa ia bisa seperti itu? Kenapa Engkau tiba-tiba mengubahnya menjadi mutiara hitam? Apa karena hamba tidak bisa membahagiakannya? Apa ini karma untuk hamba, Ya Allah? Luar biasa menyakitkan, Ya Allah.”
Dengan kasar Aisyah mengusap air matanya, dengan sigap ia mendongakan kepala ke arah langit biru yang cerah. Namun ia sendiri bingung, mengapa tidak seterang mentari? Padahal biasanya ia lebih cerah dari mentari sekali pun saat Anisa selalu menyayanginya.
“Ya, aku akan mencari uang yang banyak untuk putriku,” suara pelan itu hanya untuk menyemangati dirinya sendiri.

Sudah berjam-jam Ibu bermata hati suci yang mengenakan daster batik kusam dan luncek berdiri sambil berteriak-teriak untuk menawarkan sayur-mayur yang ia jual. Kerudung hijau tua miliknya tak lagi kering, sebagian sudah basah untuk menyeka peluhnya.
“Bu, sudah waktunya shalat dhuhur. Tidak ke masjid? Biasanya dengar adzan langsung ke masjid? Atau mau berangkat bersama saya?” Suara pedagang sayur di sebelahnya sedikit mengejutkan Aisyah.
“Nanti dulu saja, Bu. Saya harus dapat uang dulu.”
“Bu, lebih baik shalat dulu. Mari ke masjid bersama-sama, saya juga mau shalat,” suara teman dagang Aisyah semakin dekat. Bertanda akan menghampirinya.
Kali ini tak ada bantahan, Aisyah menurut saat wanita yang lebih muda darinya itu menuntunnya untuk pergi ke masjid menunaikan shalat dhuhur. Sebenarnya dalam hati ia merutuki kata-katanya untuk menunda shalat. Sekarang ia takut dilaknat Allah SWT.
“Ya Allah, Engkau Maha Pengasih, Penyayang, lagi Maha Adil. Ya, Allah ampunilah dosa putriku, berikanlah ampunan-Mu. Ya Allah, maafkan hamba yang tidak sanggup membahagiakan putri hamba. Hamba tidak pantas disebut sebagai Ibu oleh Anisa. Ya Allah, kumohon berikanlah kebahagiaan untuk putriku. Amiiin Ya Rabbalal’amin.”
Aisyah mengusap air mata yang mengalir di pipinya pelan. Ia lebih tenang setelah mencurahkan isi hatinya kepada Allah SWT. Kemudian ia melepas mukena yang ia pinjam di masjid.

Allah SWT Maha Pengampun. Menyesallah kamu yang tidak mau meminta ampunan-Nya. Allah SWT Maha Adil. Setiap manusia mempunyai takdir yang telah diatur oleh-Nya, maka kita hanya perlu berusaha mengubah nasib agar menjadi takdir yang sesungguhnya.

Di setiap harinya, Aisyah semakin tak berdaya. Bahkan terkadang ia tidak pulang karena sayur yang ia jual belum laku. Pernah suatu ketika ia pulang tanpa membawa uang sepeser pun, Anisa marah besar lalu menyuruh sang Ibu untuk kembali bekerja. Semenjak Anisa kalah oleh setan, ia tidak pernah lagi mengenal shalat, tadarus, hafalan, dan Allah SWT. Naudzubillahi mindzallik.

“Hei, hamba Allah! Jangan pernah kamu menyakiti hati Ibumu! Jangan pernah kau menyakitinya. Durhakalah kamu bila melakukannya. Ketahuilah, semua yang kamu tahu dari teman-temanmu adalah salah. Bapakmulah yang menodai Ibumu dan membuat Ibumu dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Bahkan Ibumu diusir. Dan matamu adalah cahaya Ibumu. Ketahuilah Sahabat Nabi pernah bertanya, “Siapa yang harus ku sayangi terlebih dahulu, Ibu atau Bapak?” Nabi menjawab, “Ibu”. Sahabat Nabi kembali bertanya, Nabi Muhammad SAW tetap menjawab sama, “Ibu”. Lalu Sahabat Nabi bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya, jawabannya sama “Ibu”. Sahabat Nabi bertanya lagi, dan jawabannya adalah “Bapak”.
Durhakalah kamu menyakiti Ibumu, dilaknat kamu karena melupakan Allah SWT. Seburuk apapun Ibumu, terimalah ia.”
Anisa bangun dengan napas terengah-engah. Peluh membasahi dahi berkulit langsatnya. Mata lentera itu kembali lagi, ia mengerjap berkali-kali. Kedua tangannya mengelus dada.
“Mimpi apa tadi? Apakah Allah ingin menunjukkan kepadaku yang sebenarnya? Ya Allah, ampuni hamba yang telah durhaka pada Ibu dan melupakanmu. Ampuni hamba, Ya Allah, ampuni hamba,” suara Anisa bergetar hebat. Air matanya tumpah tak beraturan.

Pagi ini Aisyah baru saja pulang dari berjualan di pasar. Uang yang didapat lebih banyak dari hari biasanya. Ia yakin Anisa akan senang. Dengan senyum yang mengembang Aisyah berlari menuju dalam rumah.
“Bu, Ibu dari mana saja?” Suara lembut Ibu Rahmi tetangganya.
“Dari pasar. Memang ada apa? Kelihatannya di rumah saya kok ramai?”
“Anisa meninggal, Bu. Tadi, saat jam tiga. Anisa meninggal sehabis shalat tahajud dan membaca Al-Quran. Begitu cerita yang saya dengar-dengar.”

Masa lalu itu telah hilang, yang ada hanya masa sekarang. Masih di tengah guyuran hujan yang ditemani kilatan-kilatan dari langit. Aisyah masih tetap bersimpuh di dekat pusara sang mutiara. Bahkan ia memaki dirinya sendiri, disaat-saat terakhir putrinya ia tidak bisa membahagiakannya. Dan ia tidak tahu mengapa putrinya bisa meninggal setelah membaca Al-Quran. Inilah kekuasaan Allah SWT terhadap alam semesta beserta isinya.
Wajah Aisyah seputih pasir pantai, bibirnya yang memutih sekarang mengering, pipinya bertambah tirus dan mungkin akan semakin tirus.
“Ya Allah, kenapa putriku dahulu yang meninggalkanku?” Teriakan itu terdengar menyayat hati. Perlahan pertahanan Ibu bermata hati itu roboh. Ia pingsan.

“Assalamualaikum. Ibu, ini Anisa. Anis hanya ingin meminta maaf pada Ibu. Dan Anisa senang di sini, Anisa bahagia di sini berkat doa Ibu. Bu, Anisa sudah tahu semuanya. Maafkan Anisa yang menyakiti, Ibu. Ibu, aku sendiri yang meminta Allah untuk mengambilku, jadi Ibu tidak perlu merasa kuatir. Aku akan baik-baik saja. Bu, aku hanya ingin mengembalikan kesalahan terbesar yang mungkin indah untuk Ibu. Aku hanya ingin mengembalikan mata lentera ini. Maafkan Anisa yang selalu merepotkan Ibu. Bu, kuharap Ibu akan lebih bahagia dan lebih dekat dengan Allah tanpa diriku. Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi, Bu. Jadi Ibu tidak perlu merindukan diriku. Terimakasih, Ibu, malaikatku. Wassalamu’alaikum.”

SELESAI

Cerpen Karangan: Endah Nisrinasari

SEMOGA BEMANFAAT :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar