Bukan Liburan Biasa
Cerpen Karangan: Nola Dewanti
Seperti remaja lainnya, Sisi juga ingin merasakan liburan bersama pacarnya dan juga teman-temannya. Namun sayang, keinginannya tersebut ditentang oleh kedua orangtuanya, terutama oleh Mamanya. Hingga pada akhirnya Sisi pun berdebat dengan Mamanya, namun tetap saja perdebatan tersebut tidak membuat Sisi diperbolehkan untuk liburan ke puncak bersama pacarnya dan juga teman-temannya.
Namun takdir seakan memihak keinginan Sisi, keesokan harinya kedua orangtua Sisi pergi untuk menjenguk bibinya, sebenarnya Sisi diajak untuk ikut bersama, namun Sisi menolaknya dengan cara berpura-pura sakit. Tentu dengan kepergian orangtuanya itu, Sisi jadi lebih mudah untuk kabur dari rumah, terlebih lagi Pak Tono, sopir Sisi tidak mengantar kedua orangtuanya ke rumah bibinya itu. Dengan perasaan yang sangat gembira, Sisi pun menghampiri Pak Tono.
“Pak Tono, sekarang cepetan Pak Tono anterin saya ke rumahnya Reza”, pinta Sisi kepada Pak Tono yang dari tadi sedang asyik meminum kopi. “Sip non”, jawab Pak Tono tanpa banyak bertanya.
Akhirnya Sisi pun menuju ke rumah pacarnya, yaitu Reza. Namun sayang, kemacetan seakan melanda perjalanan Sisi, dan tentu kemacetan ini membuat hati Sisi dilanda resah dan gelisah, namun perasaan yang melanda hati Sisi tersebut tidak berlangsung lama, perasaan Sisi tiba-tiba berganti dengan perasaan iba, ketika Sisi melihat di balik jendela ada seorang ibu-ibu di dalam bajaj yang sepertinya ingin melahirkan. Dan tanpa bicara sepatah kata pun, Sisi langsung keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan yang sebenarnya.
“Bang, ibu-ibu yang di dalam, mau melahirkan ya?”, tanya Sisi kepada sopir bajaj tersebut. “Iya neng, ibu-ibu yang di dalem emang mau melahirkan”, jawab sopir bajaj tersebut dengan wajah yang panik. “Ya ampun kasian banget, sih..”, ujar Sisi dengan wajah yang prihatin. “Lho.. non Sisi kok malah disini, ayo non kita balik lagi ke mobil”, ajak Pak Tono. “Aduh pak, masa bapak gak ngeliat sih, kan di dalam ada ibu-ibu yang lagi pengen melahirkan, masa kita diem aja sih, kita tuh harus ngebawa ibu-ibu ini ke rumah sakit”, ujar Sisi kepada Pak Tono. “Iya juga sih, tapi caranya gimana non, kan jalanan macet?”, tanya Pak Tono.
Mendengar pertanyaan Pak Tono, Sisi pun terdiam, seakan tak bisa menjawab pertanyaan pak Tono, namun Sisi tak kehilangan akal, Sisi tiba-tiba mendapat ide.
“Ehm.. gini aja, gimana kalo Pak Tono gendong Ibu-ibu ini sampai ke depan sambil ikutin jalan aku”, ujar Sisi memberi ide. “Iya… iya non, tapi mobilnya gimana non?”, tanya Pak Tono kembali. “Aduh.. udah biarin aja mobilnya dititipin sama abang bajaj”, ujar Sisi tanpa berfikr terlebih dahulu.
Tanpa banyak bicara, Pak Tono mengikuti perintah Sisi dan meninggalkan sopir bajaj tersebut, namun setibanya mereka di depan, betapa kagetnya Sisi ketika melihat angkutan metromini yang ternyata menjadi penyebab kemacetan. Dan tanpa basa basi, Sisi pun langsung menendang metromini tersebut dengan kakinya, dan tentu saja hal ini membuat amarah sopir metromini tersebut meluap.
“Hei kau, kenapa pula kau tendang-tendang metro ku ini”, ujar sopir metromini tersebut dengan logat bataknya. “Lagian dari tadi gak jalan-jalan, gak tau apa kalo di belakang ada ibu-ibu yang lagi melahirkan!”, ujar Sisi dengan suara yang lantang. “Lantas urusan dengan ku apa? Memang aku yang bikin wanita itu hamil?”, ujar kembali sopir metro tersebut. “Aduh… Sakit…” ujar ibu-ibu hamil tersebut merintih kesakitan. “Aduh gimana nih, sabar ya bu.. sabar”, ujar Sisi dengan wajah panik. “Ya udah non, daripada kelamaan mendingan kita bawa ibu-ibu ini ke metro ini aja, mumpung metro ini lagi kosong”, ujar Pak Tono yang masih menggendong Ibu-ibu tersebut.
Ahirnya Sisi dan Pak Tono pun membawa ibu-ibu hamil tersebut ke dalam metromini yang tadi ditendang oleh Sisi. Sebenarnya Sopir tersebut mengusir mereka, namun dengan paksaan Sisi akhirnya hati sopir metromini tersebut luluh juga.
Dan dalam perjalanan mereka menuju rumah sakit, tiba-tiba saja Reza menelfon Sisi.
“Sayang kamu lagi dimana sih, kok kedengerannya rame banget sih disitu? kamu jadi kan ke rumah aku”, tanya Reza. “Aduh maaf ya sayang, aku kayagnya gak jadi liburan ke pucak deh, soalnya aku lagi dalam keadaan gawat darurat nih”, jawab Sisi. “Gawat darurat apaan?”, tanya Reza kembali. “Iya soalnya aku lagi lahiran”, ujar Sisi. “HAAA? LAHIRAN? SAMA SIAPA?”, ujar Reza dengan sangat kagetnya. “Eh.. salah-salah maksud aku.. ”
Gubrak…
Belum sempat Sisi mempebaiki kalimatnya, tiba-tiba saja handphone Sisi jatuh ke bawah, lantaran sopir metromini tersebut mengemudi dengan sangat cepat. Namun ketika Sisi hendak mengambil handphonennya, sisi melihat darah mengucur di kaki ibu-ibu hamil tersebut, tentu hal ini membuat Sisi terheran-heran, hingga akhirnya Sisi pun bertanya kepada ibu-ibu hamil tersebut.
“Bu, kok tadi saya ngeliat darah ngalir di kaki ibu sih, ibu dateng bulan ya?”, tanya Sisi polos. “Wah non Sisi, itu sih namanya bukan dateng bulan, tapi itu namanya pendarahan non Sisi”, jawab Pak Tono menjelaskan. “Aduh.. dek.. aduh.. sakit”, ujar kembali Ibu-ibu tersebut. “APA? PENDARAHAN?? adduh… gimana nih, bu sabar ya bu.. tarik nafas yang dalem-dalem terus keluarin, woi bang cepetan dong nyetirnya!”, ujar Sisi dengan wajah yang panik.
Dan tiba-tiba saja kepanikan Sisi pun terhenti, lantaran tiba-tiba saja Sopir metromini tersebut mengerem secara mendadak.
“Aduh.. bang kalo ngerem itu pelan-pelan dong, gak liat apa ada ibu-ibu hamil nih”, ujar Sisi marah. “Kau ini bagaimana sih? kita sudah sampai ini di rumah sakit”, jawab sopir metromini tersebut. “Hah? udah nyampe ya, ya udah kalo gitu cepetan Pak Tono bawa Ibu ini ke dalam”, ujar Sisi memberi perintah kepada Pak Tono.
Dan tanpa banyak bicara, akhirnya Pak Tono membawa Ibu-ibu hamil tersebut ke dalam rumah sakit yang diikuti oleh Sisi. Untung saja, saat mereka di dalam, mereka langsung bertemu dengan seorang dokter yang menangani tentang kehamilan, jadi ibu-ibu hamil tersebut langsung dibawa ke ruang bersalin.
Selama 1 jam lebih, Sisi dan pak Tono menunggu, dan tentu hal ini membuat mereka dihantui perasaan cemas, namun perasaan cemas tersebut tiba-tiba berganti dengan perasaan haru, ketika mereka mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin, dan kebahagiaan mereka pun diikuti oleh ucapan teirma kasih dari ibu-ibu yang tadi.
“Dek dan juga pak sopir, Ibu sangat berterima kasih sekali karena kalian sudah mau mengantar Ibu sampai kesini”, ujar Ibu-ibu tersebut sambil menggenggam tangan Sisi. “Sama-sama bu, oh.. ya Ibu juga gak usah khawatir soal biaya persalinannya, pokoknya semua biaya persalinan Ibu biar saya yang tanggung”, jawab Sisi. “Ya ampun dek, makasih sekali ya dek, saya doakan semoga adek selalu diberi kesehatan oleh Gusti Allah”, ujar kembali ibu-ibu tersebut. “Amin.. oh, ya kalo gitu saya pamit pulang dulu ya, soalnya udah mau malem”, jawab Sisi mengakhiri percakapan.
Setelah Sisi dan pak Tono pamit pergi, akhirnya mereka pun pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan, Sisi mulai mengerti bahwa liburan bukan hanya sekedar bersenang-senang dengan pacar atu teman, melainkan menolong orang juga berarti liburan, dan ini bukan liburan biasa bagi Sisi, ini adalah sebuah liburan yang menyenangkan baginya. Namun saat Sisi sampai di rumah, Sisi pun langsung disambut dengan sejuta pertanyaan dari kedua orangtua Sisi, lantaran orangtua Sisi sangat cemas karena anak satu-satunya itu tidak pulang ke rumah dari tadi pagi. Akhirnya Sisi pun menjelaskan semuanya kepada Mama dan Papanya, dan orangtua Sisi pun sangat bangga terhadap Sisi setelah mereka mendengar semua kejadian yang telah dialami oleh Sisi hari ini.
“Mama sangat bangga sama kamu Si, tapi ngomong-ngomong kok kamu pulangnya pake taksi sih, bukannya tadi kamu bilang berangkatnya pake mobil ya? terus sekarang kok mamah gak liat mobilnya sih?”, tanya Mama penasaran. “Ehm.. maaf ya Ma, mobilnya tadi aku titipin ke sopir bajaj”, ujar Sisi dengan suara pelan.
“Sisiiiiii…!!!” teriak mama
Tamat
Cerpen Karangan: Nola Dewanti
SEMOGA BERMANFAAT :)
Senin, 15 Juni 2015
Cerpen Horror :)
Saat Terakhir di Stasiun
Cerpen Karangan: Maria Ancella
Ismail Irawan, cowok berusia tujuh belas tahun yang suka nongkrong di stasiun itu, lagi-lagi melihat seorang gadis cantik berbaju putih di seberang rel kereta. Sambil menunggu kereta yang mengantarnya pulang, Isa (panggilan akrabnya) berusaha menemui gadis sebayanya itu untuk sekedar mengobrol demi menyingirkan rasa bosan. Namun sayangnya kereta melintas di hadapannya dan setelah itu, gadis itu sudah tidak ada di bangkunya.
Sudah tujuh kali Isa melihat gadis itu. Ia tidak memperhatikan terlalu detail baju apa yang dikenakannya. Namun, setiap kali ia melihatnya, gadis itu selalu mengenakan rok terusan putih dengan bordiran mawar biru di bagian lehernya. Agak ganjil, sih. Tapi bagi Isa, gadis itu sangat cantik, kalem dan tampak sangat pemalu. Jika ia bukan pemalu, pastinya gadis itu tidak mungkin selalu menghilang (atau kabur) dari hadapan Isa.
Terkadang Isa membayangkan gadis cantik itu adalah adiknya, atau pacarnya yang kalem tapi perhatian, atau mungkin istrinya kelak yang sangat setia dan mau mengerti segala kebutuhan dan pekerjaannya. Setiap hari ia tidak pernah tidak memikirkan gadis itu. Membayangkan kulitnya yang putih mulus, hidungnya yang kecil, matanya yang kalem dan rambutnya yang terurai hingga sepinggang, adalah rutinitas wajibnya. Meski hanya semenit dua menit sehari, bayang-bayang gadis itu tidak muncul ketika Isa memikirkannya saja. Wajah cantiknya yang sepucat bulan kesepian itu selalu ada di ingatan Isa seperti bulan yang selalu ada menemani langit malam.
Hari itu seperti biasanya Isa menunggu kereta datang untuk mengantarnya pulang. Pikirannya kosong meskipun bayang-bayang gadis itu masih melintas di pikirannya. Ia betul-betul tidak memikirkan apa-apa. Lalu ketika gadis itu muncul di antara kerumunan orang yang telah menuruni kereta, Isa tersadar dari lamunannya.
Mata mereka saling bertemu. Tatapan kaget Isa yang sedikit datar beradu dengan tatapan kosong gadis itu. Kali ini gadis itu tidak menghindar darinya. Ia hanya berdiri di tempatnya tanpa ekspresi. Isa juga demikian. Setelah sekian lama mereka saling berpandang-pandangan, Isa akhirnya menghampiri gadis itu.
“Hei,” sapa Isa. “Gua sering ngeliat lu di sini tapi… kita nggak pernah ketemu kayak gini. Lu naik kereta jurusan apa?”
Gadis itu menoleh rel tanpa kereta, memandang sekitar yang telah sepi, lalu kembali menatap Isa dengan tatapan sedih. “Nggak tau…”
“Lho, lu tersesat? Rumah lu di mana?”
Gadis itu menggeleng.
“Ya, ampun… Uda gede, kok, nyasar? Kayak ade gua aja lu… Uda kelas tiga SMP masih aja nyasar gara-gara salah angkot.”
“Aku beneran nggak tau kemana aku harus pergi. Aku masih nunggu seseorang, baru habis itu aku pergi.”
“Hoo… Janji ketemuan, ya?” Isa sedikit kecewa. “Pacar lu?”
Tatapan kosong gadis itu membuat bulu kuduk Isa berdiri. “Aku juga nggak tau…”
“O-oke.” Cewek aneh atau cewek autis, nih?
Mereka kembali diam memandang rel kereta yang kosong. Suasana juga sangat sepi seperti sudah tengah malam. Para penjual minuman masih buka, tapi tidak ada yang membeli minuman. Tergerak oleh rasa haus, Isa membeli dua botol teh dingin untuknya dan gadis itu.
“Makasih.”
“Sama-sama.”
“Tapi aku nggak haus… Nggak apa-apa kalau aku nggak minum?”
“Santai aja! Itu kan uda jadi minuman lu. Jadi terserah lu mau minum atau nggak. Nggak perlu nggak enak ke gua.”
“Makasih.”
“Sama-sama.”
Mereka diam lagi.
Setengah jam lebih berlalu dan tidak ada kereta yang melintas. Rel betul-betul kosong dan stasiun pun semakin sepi penumpang. Sangat ganjil.
“Lu nggak pegel?” tanya Isa.
Gadis itu menggeleng.
Yah… Nggak bisa duduk, deh…
“Kamu pegel?” tanya gadis itu. Isa garuk-garuk kepala. “Mau duduk?”
“Nggak, nggak… Bentar lagi keretanya juga dateng, kok.”
“Keretanya nggak akan dateng secepet yang kamu kira.”
Isa tutup mulut. Ada yang nggak beres, nih…
“Mau duduk?”
“Em… Boleh, deh. Tapi lu duduk juga ya.”
Mereka berdua duduk di bangku tunggu, hanya berdua, di stasiun kereta api yang mulai menciptakan suasana horror. Untungnya Isa adalah orang yang cuek bebek. Biarpun tsunami menghadang, yang penting stay cool dan berkepala dingin. Biarpun saat itu sangat ganjil, Isa tidak deg-degan dan berkeringat dingin. Pokoknya stay cool in front of the girl.
“Boleh gua nanya nama lu?”
“Apa aku boleh mengenal nama kamu?”
“Boleh, dong! Tapi nama lu dulu ya.”
Gadis itu tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk. “Nama aku dimulai dari huruf M. Nama kamu?”
“M? Habis M ada huruf apa lagi?”
“Pokoknya inisialku ‘M’. Kita kan belum sama-sama kenal sebelumnya.”
“Jadi, gua orang jahat nih? Gitu maksudnya?”
“Orang yang belum dikenal kan belum tentu orang jahat.”
“Trus? Kenapa lu nggak mau ngasih tau?”
Si cantik diam lagi. Karena ini adalah janjiku pada orang itu…
“Hei…,” Isa melambai-lambaikan telapak tangannya di depan mata si gadis, “Jangan bengong! Uda sepi, ketemu cewek pendiem, gelap lagi… Berasa film horror aja. Udah gitu baju lu warnanya putih lagi! Hiih…”
Tatapan kosong kembali diberikan. Isa melipat tangannya dan buang muka. “Tuh, kan… Horror lagi deh… Ya, udah kalau nggak mau ngasih tau. Gua juga nggak bakal ngasih tau nama asli gua. Panggil gua ‘Mail’. Seperti ‘e-mail’ yang menjadi jendela hati para insani yang jauh.”
“Mail, ya?”
“Yup… Mau nama asli gua? Kasih tau nama asli lu dulu!”
Gadis itu tersenyum. Isa bengong. Baru kali ini ia melihat gadis itu tersenyum.
“Inisial kamu juga ‘M’ kayak aku. Kamu sengaja, ya?”
Mendadak Isa salting. Ia berdeham keras-keras, tersadar akan kebetulan yang mengungkap isi hatinya secara tidak sengaja. Nggak apa-apa, deh… Yang penting bisa liat lu senyum.
“Gitu, dong… Jangan kasih gua mata horror terus. Bosen, tau! Haaah… Nggak nyangka, ya, kita bisa ngobrol kayak gini. Setiap kali gua ngeliat lu, gua selalu mikir: ini penampakan atau bukan, ya? Habis lu di mata gua itu sesosok gadis tanpa ekspresi dan perasaan. Bukan berarti lu nggak punya hati ya… (aduh keceplosan) Lu tuh… kayak… cewek polos yang kehilangan arah. Tapi, lu di telinga gua… kayak bulan.”
“Bulan? Bulan, kan, nggak bisa bicara.”
“Bulan itu bisu, ya kan? Nah makanya gua sebut lu itu bulan. Lu itu nggak pernah bicara, nggak pernah ngeluh, nggak pernah ngomel-ngomel nggak penting karena lu nggak bisa ngelakuin tugas lu. Apakah bulan pernah nanya kenapa dia harus menyinari bumi saat malam tiba? Apa pernah bulan itu, bicara? Kayak lu banget. Lu nggak pernah nanya kenapa lu harus pergi, kenapa lu harus nunggu ‘orang itu’, atau ke mana lu harus pergi. Lu selalu ngejalanin semuanya tanpa banyak tanya.”
Senyuman itu mulai memudar. Wajahnya kini bersedih. Apa yang diucapkan Isa benar adanya. Keyakinannya tidak pernah goyah walaupun ia tidak tahu tujuan hidupnya. Kesetiaannya sungguh besar sehingga ia selalu setia menunggu walaupun ia tidak tahu siapa yang harus ditunggunya. Hatinya juga begitu polos, mengikuti segalanya sesuai instruksi seperti anak baik.
“Kalau gitu, gua panggil ‘Moona’ ya. Boleh?”
Wajahnya masih sedih meskipu senyuman kecil itu masih terpampang di wajahnya. “Makasih, ya. Tapi kamu nggak boleh terus-terusan mengingat nama itu.”
“Lho, kenapa?”
“Karena kalau kamu mengingat nama aku atau wajah aku, aku nggak bakalan bisa pergi bareng ‘orang itu’. Kamu harus ngelupain aku setelah kamu nyampe rumah.”
“Moona, gua nggak ngerti. Hei, jelasin tentang ‘orang itu’. Dia itu siapanya lu?”
Moona menggeleng. Mereka diam lagi. Kini Isa menjadi iba dengannya. Moona seperti bulan yang tertekan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Moona?
Tiba-tiba terdengar suara kereta dari kejauhan. Rupanya itu adalah kereta yang mengantarnya pulang. Begitu kereta itu berhenti di depannya, para penumpang yang jumlahnya sangat sedikit dari biasanya turun dari kereta dalam hening. Lagi-lagi yang ditimbulkan adalah suasana hening. Setelah kereta kosong, Isa bersiap untuk pergi.
“Mail, lupain aku ya.”
Dahi Isa mengerut. Segera ia menggenggam erat tangan Moona yang sangat dingin seperti es. “Selamanya gua nggak bakalan ngerti siapa lu dan kenapa lu kayak gini. Tapi gua bukan orang yang cepet nyerah. Gua akan terus inget sama lu sampe gua ngerti apa yang sebenernya terjadi. Gua minta maaf. Gua nggak bisa ngelupain lu. Inget, Moona! Lu adalah bulan yang selalu bersinar di malam hari. Lu nggak akan pernah mati di ingatan gua karena lu… selalu ada di hati gua, Moona.”
Moona membelalak. Matanya berkaca-kaca. Isa melepas tangannya dan pergi menaiki kereta. Ketika pilr-pilar stasiun bergerak mundur, itulah saat yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal. Isa melambaikan tangannya sambil tersenyum penuh semangat, berusaha menghibur si bulan yang kesepian itu. Wajah Moona menghilang jauh di belakangnya. Isa kecewa karena ia harus berpisah dengannya lagi.
Sementara itu Moona masih menatap kepergian Isa dengan mata berair. Ia menggenggam bekas genggaman tangan Isa yang hangat. Ia juga tidak ingin berpisah dengan Isa.
“Maya?”
Moona menoleh. Di sampingnya berdiri seorang pria jangkung, bermantel putih panjang, berkemeja abu-abu gelap, dan mengenakan lencana emas berbentuk sabit bersayap. “Namamu Maya Safira, kan? Maaf aku terlambat.”
“Nggak apa-apa. Penantianku selama satu tahun ini pada akhirnya nggak sia-sia. Makasih udah dateng.”
“Maya, kau tidak melanggar peraturan, kan? Sebelum kau dijemput, kau tidak boleh bicara dengan manusia, mengenalnya, atau mengingatnya. Kau tidak akan bisa pergi jika kau masih memiliki ingatan di dunia ini. Kau mengerti?”
Moona nyaris menangis. Hatinya teriris. Ia harus melupakan seseorang yang baru ditemuinya setelah sekian lama terisolasi dari manusia.
Ketika kereta bercahaya emas datang, pria itu menggandeng tangan Moona setelah Moona meletakkan botol teh dingin dari Isa. Air matanya ia tahan agar tidak menetes di bangku tunggu atau ia tidak akan bisa pergi dari dunia manusia. Pintu terbuka dan Moona melangkah masuk. Di ambang pintu, Moona berkata kepada pria itu:
“Ketika kita meninggal, apakah kita harus terhapus dari ingatan yang ditinggalkan? Dengan begitu kita bisa pergi dengan tenang? Gimana dengan hati mereka? Apakah kita terhapus dari hati mereka? Apa Om bisa ngehancurin hati Om sendiri?”
Pria itu terdiam. Ia melirik botol teh dingin dan menyipitkan matanya. “Dia tidak tahu nama aslimu dan kau tidak tahu nama aslinya?” Moona mengangguk. “Bagiku itu cukup. Ayo, berangkat!”
Kereta pun berangkat meninggalkan stasiun, meninggalkan sisa-sisa kenangan, emosi dan getar-getar perasaan di antara mereka berdua. Moona tersenyum penuh kedamaian sambil mengulang perasaan cinta yang tumbuh di hatinya. Seperti yang dikatakan Isa bahwa ia akan selalu ada di hati Isa, Moona mengulang hal serupa.
Kamu akan selalu ada di hatiku meski sekarang berbeda dimensi. Selama bulan masih bersinar di langit malam, aku selalu ada di hatimu…
TAMAT
Cerpen Karangan: Maria Ancella
SEMOGA BERMANFAAT :)
Cerpen Karangan: Maria Ancella
Ismail Irawan, cowok berusia tujuh belas tahun yang suka nongkrong di stasiun itu, lagi-lagi melihat seorang gadis cantik berbaju putih di seberang rel kereta. Sambil menunggu kereta yang mengantarnya pulang, Isa (panggilan akrabnya) berusaha menemui gadis sebayanya itu untuk sekedar mengobrol demi menyingirkan rasa bosan. Namun sayangnya kereta melintas di hadapannya dan setelah itu, gadis itu sudah tidak ada di bangkunya.
Sudah tujuh kali Isa melihat gadis itu. Ia tidak memperhatikan terlalu detail baju apa yang dikenakannya. Namun, setiap kali ia melihatnya, gadis itu selalu mengenakan rok terusan putih dengan bordiran mawar biru di bagian lehernya. Agak ganjil, sih. Tapi bagi Isa, gadis itu sangat cantik, kalem dan tampak sangat pemalu. Jika ia bukan pemalu, pastinya gadis itu tidak mungkin selalu menghilang (atau kabur) dari hadapan Isa.
Terkadang Isa membayangkan gadis cantik itu adalah adiknya, atau pacarnya yang kalem tapi perhatian, atau mungkin istrinya kelak yang sangat setia dan mau mengerti segala kebutuhan dan pekerjaannya. Setiap hari ia tidak pernah tidak memikirkan gadis itu. Membayangkan kulitnya yang putih mulus, hidungnya yang kecil, matanya yang kalem dan rambutnya yang terurai hingga sepinggang, adalah rutinitas wajibnya. Meski hanya semenit dua menit sehari, bayang-bayang gadis itu tidak muncul ketika Isa memikirkannya saja. Wajah cantiknya yang sepucat bulan kesepian itu selalu ada di ingatan Isa seperti bulan yang selalu ada menemani langit malam.
Hari itu seperti biasanya Isa menunggu kereta datang untuk mengantarnya pulang. Pikirannya kosong meskipun bayang-bayang gadis itu masih melintas di pikirannya. Ia betul-betul tidak memikirkan apa-apa. Lalu ketika gadis itu muncul di antara kerumunan orang yang telah menuruni kereta, Isa tersadar dari lamunannya.
Mata mereka saling bertemu. Tatapan kaget Isa yang sedikit datar beradu dengan tatapan kosong gadis itu. Kali ini gadis itu tidak menghindar darinya. Ia hanya berdiri di tempatnya tanpa ekspresi. Isa juga demikian. Setelah sekian lama mereka saling berpandang-pandangan, Isa akhirnya menghampiri gadis itu.
“Hei,” sapa Isa. “Gua sering ngeliat lu di sini tapi… kita nggak pernah ketemu kayak gini. Lu naik kereta jurusan apa?”
Gadis itu menoleh rel tanpa kereta, memandang sekitar yang telah sepi, lalu kembali menatap Isa dengan tatapan sedih. “Nggak tau…”
“Lho, lu tersesat? Rumah lu di mana?”
Gadis itu menggeleng.
“Ya, ampun… Uda gede, kok, nyasar? Kayak ade gua aja lu… Uda kelas tiga SMP masih aja nyasar gara-gara salah angkot.”
“Aku beneran nggak tau kemana aku harus pergi. Aku masih nunggu seseorang, baru habis itu aku pergi.”
“Hoo… Janji ketemuan, ya?” Isa sedikit kecewa. “Pacar lu?”
Tatapan kosong gadis itu membuat bulu kuduk Isa berdiri. “Aku juga nggak tau…”
“O-oke.” Cewek aneh atau cewek autis, nih?
Mereka kembali diam memandang rel kereta yang kosong. Suasana juga sangat sepi seperti sudah tengah malam. Para penjual minuman masih buka, tapi tidak ada yang membeli minuman. Tergerak oleh rasa haus, Isa membeli dua botol teh dingin untuknya dan gadis itu.
“Makasih.”
“Sama-sama.”
“Tapi aku nggak haus… Nggak apa-apa kalau aku nggak minum?”
“Santai aja! Itu kan uda jadi minuman lu. Jadi terserah lu mau minum atau nggak. Nggak perlu nggak enak ke gua.”
“Makasih.”
“Sama-sama.”
Mereka diam lagi.
Setengah jam lebih berlalu dan tidak ada kereta yang melintas. Rel betul-betul kosong dan stasiun pun semakin sepi penumpang. Sangat ganjil.
“Lu nggak pegel?” tanya Isa.
Gadis itu menggeleng.
Yah… Nggak bisa duduk, deh…
“Kamu pegel?” tanya gadis itu. Isa garuk-garuk kepala. “Mau duduk?”
“Nggak, nggak… Bentar lagi keretanya juga dateng, kok.”
“Keretanya nggak akan dateng secepet yang kamu kira.”
Isa tutup mulut. Ada yang nggak beres, nih…
“Mau duduk?”
“Em… Boleh, deh. Tapi lu duduk juga ya.”
Mereka berdua duduk di bangku tunggu, hanya berdua, di stasiun kereta api yang mulai menciptakan suasana horror. Untungnya Isa adalah orang yang cuek bebek. Biarpun tsunami menghadang, yang penting stay cool dan berkepala dingin. Biarpun saat itu sangat ganjil, Isa tidak deg-degan dan berkeringat dingin. Pokoknya stay cool in front of the girl.
“Boleh gua nanya nama lu?”
“Apa aku boleh mengenal nama kamu?”
“Boleh, dong! Tapi nama lu dulu ya.”
Gadis itu tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk. “Nama aku dimulai dari huruf M. Nama kamu?”
“M? Habis M ada huruf apa lagi?”
“Pokoknya inisialku ‘M’. Kita kan belum sama-sama kenal sebelumnya.”
“Jadi, gua orang jahat nih? Gitu maksudnya?”
“Orang yang belum dikenal kan belum tentu orang jahat.”
“Trus? Kenapa lu nggak mau ngasih tau?”
Si cantik diam lagi. Karena ini adalah janjiku pada orang itu…
“Hei…,” Isa melambai-lambaikan telapak tangannya di depan mata si gadis, “Jangan bengong! Uda sepi, ketemu cewek pendiem, gelap lagi… Berasa film horror aja. Udah gitu baju lu warnanya putih lagi! Hiih…”
Tatapan kosong kembali diberikan. Isa melipat tangannya dan buang muka. “Tuh, kan… Horror lagi deh… Ya, udah kalau nggak mau ngasih tau. Gua juga nggak bakal ngasih tau nama asli gua. Panggil gua ‘Mail’. Seperti ‘e-mail’ yang menjadi jendela hati para insani yang jauh.”
“Mail, ya?”
“Yup… Mau nama asli gua? Kasih tau nama asli lu dulu!”
Gadis itu tersenyum. Isa bengong. Baru kali ini ia melihat gadis itu tersenyum.
“Inisial kamu juga ‘M’ kayak aku. Kamu sengaja, ya?”
Mendadak Isa salting. Ia berdeham keras-keras, tersadar akan kebetulan yang mengungkap isi hatinya secara tidak sengaja. Nggak apa-apa, deh… Yang penting bisa liat lu senyum.
“Gitu, dong… Jangan kasih gua mata horror terus. Bosen, tau! Haaah… Nggak nyangka, ya, kita bisa ngobrol kayak gini. Setiap kali gua ngeliat lu, gua selalu mikir: ini penampakan atau bukan, ya? Habis lu di mata gua itu sesosok gadis tanpa ekspresi dan perasaan. Bukan berarti lu nggak punya hati ya… (aduh keceplosan) Lu tuh… kayak… cewek polos yang kehilangan arah. Tapi, lu di telinga gua… kayak bulan.”
“Bulan? Bulan, kan, nggak bisa bicara.”
“Bulan itu bisu, ya kan? Nah makanya gua sebut lu itu bulan. Lu itu nggak pernah bicara, nggak pernah ngeluh, nggak pernah ngomel-ngomel nggak penting karena lu nggak bisa ngelakuin tugas lu. Apakah bulan pernah nanya kenapa dia harus menyinari bumi saat malam tiba? Apa pernah bulan itu, bicara? Kayak lu banget. Lu nggak pernah nanya kenapa lu harus pergi, kenapa lu harus nunggu ‘orang itu’, atau ke mana lu harus pergi. Lu selalu ngejalanin semuanya tanpa banyak tanya.”
Senyuman itu mulai memudar. Wajahnya kini bersedih. Apa yang diucapkan Isa benar adanya. Keyakinannya tidak pernah goyah walaupun ia tidak tahu tujuan hidupnya. Kesetiaannya sungguh besar sehingga ia selalu setia menunggu walaupun ia tidak tahu siapa yang harus ditunggunya. Hatinya juga begitu polos, mengikuti segalanya sesuai instruksi seperti anak baik.
“Kalau gitu, gua panggil ‘Moona’ ya. Boleh?”
Wajahnya masih sedih meskipu senyuman kecil itu masih terpampang di wajahnya. “Makasih, ya. Tapi kamu nggak boleh terus-terusan mengingat nama itu.”
“Lho, kenapa?”
“Karena kalau kamu mengingat nama aku atau wajah aku, aku nggak bakalan bisa pergi bareng ‘orang itu’. Kamu harus ngelupain aku setelah kamu nyampe rumah.”
“Moona, gua nggak ngerti. Hei, jelasin tentang ‘orang itu’. Dia itu siapanya lu?”
Moona menggeleng. Mereka diam lagi. Kini Isa menjadi iba dengannya. Moona seperti bulan yang tertekan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Moona?
Tiba-tiba terdengar suara kereta dari kejauhan. Rupanya itu adalah kereta yang mengantarnya pulang. Begitu kereta itu berhenti di depannya, para penumpang yang jumlahnya sangat sedikit dari biasanya turun dari kereta dalam hening. Lagi-lagi yang ditimbulkan adalah suasana hening. Setelah kereta kosong, Isa bersiap untuk pergi.
“Mail, lupain aku ya.”
Dahi Isa mengerut. Segera ia menggenggam erat tangan Moona yang sangat dingin seperti es. “Selamanya gua nggak bakalan ngerti siapa lu dan kenapa lu kayak gini. Tapi gua bukan orang yang cepet nyerah. Gua akan terus inget sama lu sampe gua ngerti apa yang sebenernya terjadi. Gua minta maaf. Gua nggak bisa ngelupain lu. Inget, Moona! Lu adalah bulan yang selalu bersinar di malam hari. Lu nggak akan pernah mati di ingatan gua karena lu… selalu ada di hati gua, Moona.”
Moona membelalak. Matanya berkaca-kaca. Isa melepas tangannya dan pergi menaiki kereta. Ketika pilr-pilar stasiun bergerak mundur, itulah saat yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal. Isa melambaikan tangannya sambil tersenyum penuh semangat, berusaha menghibur si bulan yang kesepian itu. Wajah Moona menghilang jauh di belakangnya. Isa kecewa karena ia harus berpisah dengannya lagi.
Sementara itu Moona masih menatap kepergian Isa dengan mata berair. Ia menggenggam bekas genggaman tangan Isa yang hangat. Ia juga tidak ingin berpisah dengan Isa.
“Maya?”
Moona menoleh. Di sampingnya berdiri seorang pria jangkung, bermantel putih panjang, berkemeja abu-abu gelap, dan mengenakan lencana emas berbentuk sabit bersayap. “Namamu Maya Safira, kan? Maaf aku terlambat.”
“Nggak apa-apa. Penantianku selama satu tahun ini pada akhirnya nggak sia-sia. Makasih udah dateng.”
“Maya, kau tidak melanggar peraturan, kan? Sebelum kau dijemput, kau tidak boleh bicara dengan manusia, mengenalnya, atau mengingatnya. Kau tidak akan bisa pergi jika kau masih memiliki ingatan di dunia ini. Kau mengerti?”
Moona nyaris menangis. Hatinya teriris. Ia harus melupakan seseorang yang baru ditemuinya setelah sekian lama terisolasi dari manusia.
Ketika kereta bercahaya emas datang, pria itu menggandeng tangan Moona setelah Moona meletakkan botol teh dingin dari Isa. Air matanya ia tahan agar tidak menetes di bangku tunggu atau ia tidak akan bisa pergi dari dunia manusia. Pintu terbuka dan Moona melangkah masuk. Di ambang pintu, Moona berkata kepada pria itu:
“Ketika kita meninggal, apakah kita harus terhapus dari ingatan yang ditinggalkan? Dengan begitu kita bisa pergi dengan tenang? Gimana dengan hati mereka? Apakah kita terhapus dari hati mereka? Apa Om bisa ngehancurin hati Om sendiri?”
Pria itu terdiam. Ia melirik botol teh dingin dan menyipitkan matanya. “Dia tidak tahu nama aslimu dan kau tidak tahu nama aslinya?” Moona mengangguk. “Bagiku itu cukup. Ayo, berangkat!”
Kereta pun berangkat meninggalkan stasiun, meninggalkan sisa-sisa kenangan, emosi dan getar-getar perasaan di antara mereka berdua. Moona tersenyum penuh kedamaian sambil mengulang perasaan cinta yang tumbuh di hatinya. Seperti yang dikatakan Isa bahwa ia akan selalu ada di hati Isa, Moona mengulang hal serupa.
Kamu akan selalu ada di hatiku meski sekarang berbeda dimensi. Selama bulan masih bersinar di langit malam, aku selalu ada di hatimu…
TAMAT
Cerpen Karangan: Maria Ancella
SEMOGA BERMANFAAT :)
Minggu, 14 Juni 2015
Cerpen Persahabatan :)
Sahabat Kecilku
Cerpen Karangan: Nur Hamidatus Sa'diyah
Matahari siang ini sangat terik. Keringat bercucuran bagaikan hujan yang turun dengan begitu derasnya. Tepat pukul 2 siang, aku pulang sekolah. Aktivitasku usai sekolah adalah ganti baju lalu bergegas menuju meja makan untuk makan siang. Hari ini tak ada yang berbeda, semua kegiatanku berjalan dengan lancar. Usai makan, aku pun istirahat sejenak untuk sedikit menenangkan fikiran setelah kurang lebih 8 jam otak ini bekerja tanpa henti.
Kriing… Kriiing… ponselku berbunyi dan langsung ku menghampirinya.
’1 pesan masuk dari siapa yaa..’ pikirku sambil ku buka pesan itu.
Mbak, apa sore ini kamu ada kegiatan? Kalo tidak, jalan-jalan sore yuk…
Nggak ada, mau jalan kemana Va? Kok tumben ngajak jalan.. hehe
Kemana ajalah mbak, yang penting jalan. Ntar jam 5 aku ke rumahmu ya?
Oke ku tunggu kehadiranmu..
Itulah beberapa pesan dari Eva yang ku balas saat dia mengajakku jalan. Dalam pikiranku.. ‘kok tumben Eva ngajak jalan, biasanya ini anak paling susah kalo diajak jalan..’
Tepat pukul 5 sore.
“tok… tok… tok… Mbak, aku Eva udah siap jalan belum?” suara Eva terdengar dari luar kamar yang nampak sudah siap untuk pergi jalan-jalan sore.
“Ya.. ya.. tunggu bentar Va.”
Sebelum pergi jalan-jalan, tak lupa aku pamit kepada ibuku. Kami pun berangkat jalan-jalan mengendarai si “RED”. Sebutan motor kesayangan Eva. Sebenarnya peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat jarang Aku rasakan. Pasalnya, meskipun Aku dan Eva adalah sahabat sejak kecil, tapi aku dan Eva jarang pergi bersama seperti sore ini. Sebab Eva adalah anak yang terbilang penurut kepada orangtuanya. Setiap minta izin kepada orangtuanya untuk pergi hanya sekedar bermain ke rumah teman, jika Dia tidak diberi izin, Dia pun tak akan pergi berangkat. Tetapi sore ini lain. Eva justru mengajakku pergi jalan-jalan. Walaupun aneh, tapi sangat senang hati ini. Kami sangat menikmati suasana ini. Suasana saat Aku dan Eva bermain bersama, bercanda, tertawa bahagia. Suasana saat bersama seperti inilah yang sangat mengesankan dan membahagiakan untukku.
Namun saat sampai di tempat favorit kami, Eva mengatakan hal yang membuatku tak mampu untuk berkata-kata.
“Mbaak, aku minta doa restunya ya!”
“Looh.. kenapa Va? Memangnya kamu mau kemana? Ada apa?”
“Mmm.. Nggak ada apa-apa kok mbak. Gini, 1 bulan lagi kan sudah tahun ajaran baru. Aku masuk SMA, tapi sepertinya aku nggak akan melanjutkan sekolah disini. Insya Allah aku akan melanjutkan sekolah di Jombang mbak. Makanya, aku minta doa restunya. Biar semunya lancar. Mbak disini juga semoga lancar.” jelas Eva dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
“Haaa…” Sambil melongo. Serasa dunia ini berhenti. Tak bisa aku berucap. Badan terasa kaku tak bisa bergerak. Nafas serasa terhenti. Kaget, sedih, kecewa semuanya menjadi satu. “Kok jauh Va?”
“Iya mbak, ini cita-citaku. Aku ingin melanjutkan di Tebu Ireng, Jombang.”
“oooh.” Tak bisa Aku menjawab penjelasan darinya. Saat itu ingin rasanya Aku meneteskan air mata.
Sepulang dari jalan-jalan, Aku langsung masuk kamar. Disinilah Aku luapkan perasaan yang ada dalam hatiku saat mendengar penjelasan Eva, bahwa sahabat ku yang satu ini hendak melanjutkan sekolahnya ke luar kota. Jauh dari ku, meskipun Aku tau jika dia pergi bukanlah untuk bermain, liburan, pindahan rumah ataupun hanya sekedar pergi berkunjung ke rumah saudara. Melainkan untuk mencari ilmu. Untuk menggapai cita-citanya. Ini niat yang mulia, Aku harus mengikhlaskannya.
Tak ada satu pun masa
Seindah saat kita bersama
Bermain-main hingga lupa waktu
Mungkinkah kita kan mengulangnya
Tiada… tiada lagi tawamu
Yang selalu menemani saat sedihku
Tiada… tiada lagi candamu
Ku dengarkan lagu itu samar-samar. Hingga tak ku sadari, air mata ku jatuh bercucuran. Seketika Aku mengingat akan masa-masa indah bersama sahabatku Eva. Saat Aku dan Eva pergi bersama-sama, bahagia bersama, bercerita pengalaman, bertukar pikiran. Saat itulah masa yang sangat indah. Benar-benar tak bisa ku lupakan masa itu. Kini, dia akan pergi jauh. Pastilah Aku akan sendiri disini.
“Perpisahan… perpisahan adalah salah satu hal yang paling ku benci. Awalnya bersama menjadi sendiri. Awalnya beramai-ramai menjadi sepi. Awalnya bahagia menjadi sedih.” Itulah sebaris tulisan yang tengah ku buat, sambilku dengar lagu tentang sahabat dari gita gutawa. Tulisan yang sangat menggambarkan suasana hati kecil ku.
“Toh kalo pun Dia pergi, terpisah jauhnya jarak, tapi ini semua kan demi cita-citanya. Ini juga untuk hal yang Insya Allah baik kok. Tak perlu menangis, iklaskan saja.” Gumamku dalam sunyinya malam untuk sedikit menenangkan hati kecilku.
Tak sadar jam telah menunjuk angka 10 malam. Ibuku menyuruhku untuk tidur.
“Mid, sudah malam. Tidur dulu!” suruhnya.
“Ya bu..” jawabku. Langsung ku matikan lampu kamar dan ku rebahkan tubuh yang sudah payah ini di atas tempat tidurku.
1 bulan berlalu.
Suara adzan subuh membangunkanku dari tidurku. Ku mulai hari ini dengan perasaan yang tak semangat. Aku sangat berharap jika hari ini tidak akan pernah terjadi. Karena aku tau jika Eva akan berangkat pagi ini. Sebelum berangkat, Eva pergi ke rumah ku.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalaam.. silakan masuk” jawabku
“Ya mbak, aku masuk.”
“Ada apa Va?” tanyaku demikian, meskipun aku ketahui dia datang ke rumahku untuk berpamitan.
“Mbak, hari ini aku berangkat ke Jombang. Aku mohon doanya ya mbak. Meski aku jauh disana, jangan lupakan aku. Semoga persahabatan kita terus abadi. Kita harus semangat mbak.” Jelasnya sambil mengusap air matanya, ia merasa sedih saat itu.
“Eva, tersenyumlah. Jangan menangis sahabat, kita pasti bisa menjalani ini semua kok. Ini kan tujuan dan cita-citamu. Kejarlah cita-citamu, semangat pokoknya. Kita akan terus bersahabat. Tenanglah. Disana kamu harus fokus dengan tanggung jawabmu.”
“Mm.. Ya mbak. Aku berangkat ya.”
Kami pun berpelukan untuk terakhir kalinya sebelum dia berangkat.
Beberapa menit kemudian, Eva berangkat bersama keluarganya. Aku hanya bisa mengantarkan kepergianya sampai di depan gang. Dia melambaikan tangan kepadaku. Aku membalasnya dengan senyuman.
“Selamat tinggal SAHABAT, Kejarlah cita-citamu”
Cerpen Karangan: Nur Hamidatus Sa’diyah
SEMOGA BERMANFAAT :)
Cerpen Karangan: Nur Hamidatus Sa'diyah
Matahari siang ini sangat terik. Keringat bercucuran bagaikan hujan yang turun dengan begitu derasnya. Tepat pukul 2 siang, aku pulang sekolah. Aktivitasku usai sekolah adalah ganti baju lalu bergegas menuju meja makan untuk makan siang. Hari ini tak ada yang berbeda, semua kegiatanku berjalan dengan lancar. Usai makan, aku pun istirahat sejenak untuk sedikit menenangkan fikiran setelah kurang lebih 8 jam otak ini bekerja tanpa henti.
Kriing… Kriiing… ponselku berbunyi dan langsung ku menghampirinya.
’1 pesan masuk dari siapa yaa..’ pikirku sambil ku buka pesan itu.
Mbak, apa sore ini kamu ada kegiatan? Kalo tidak, jalan-jalan sore yuk…
Nggak ada, mau jalan kemana Va? Kok tumben ngajak jalan.. hehe
Kemana ajalah mbak, yang penting jalan. Ntar jam 5 aku ke rumahmu ya?
Oke ku tunggu kehadiranmu..
Itulah beberapa pesan dari Eva yang ku balas saat dia mengajakku jalan. Dalam pikiranku.. ‘kok tumben Eva ngajak jalan, biasanya ini anak paling susah kalo diajak jalan..’
Tepat pukul 5 sore.
“tok… tok… tok… Mbak, aku Eva udah siap jalan belum?” suara Eva terdengar dari luar kamar yang nampak sudah siap untuk pergi jalan-jalan sore.
“Ya.. ya.. tunggu bentar Va.”
Sebelum pergi jalan-jalan, tak lupa aku pamit kepada ibuku. Kami pun berangkat jalan-jalan mengendarai si “RED”. Sebutan motor kesayangan Eva. Sebenarnya peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat jarang Aku rasakan. Pasalnya, meskipun Aku dan Eva adalah sahabat sejak kecil, tapi aku dan Eva jarang pergi bersama seperti sore ini. Sebab Eva adalah anak yang terbilang penurut kepada orangtuanya. Setiap minta izin kepada orangtuanya untuk pergi hanya sekedar bermain ke rumah teman, jika Dia tidak diberi izin, Dia pun tak akan pergi berangkat. Tetapi sore ini lain. Eva justru mengajakku pergi jalan-jalan. Walaupun aneh, tapi sangat senang hati ini. Kami sangat menikmati suasana ini. Suasana saat Aku dan Eva bermain bersama, bercanda, tertawa bahagia. Suasana saat bersama seperti inilah yang sangat mengesankan dan membahagiakan untukku.
Namun saat sampai di tempat favorit kami, Eva mengatakan hal yang membuatku tak mampu untuk berkata-kata.
“Mbaak, aku minta doa restunya ya!”
“Looh.. kenapa Va? Memangnya kamu mau kemana? Ada apa?”
“Mmm.. Nggak ada apa-apa kok mbak. Gini, 1 bulan lagi kan sudah tahun ajaran baru. Aku masuk SMA, tapi sepertinya aku nggak akan melanjutkan sekolah disini. Insya Allah aku akan melanjutkan sekolah di Jombang mbak. Makanya, aku minta doa restunya. Biar semunya lancar. Mbak disini juga semoga lancar.” jelas Eva dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
“Haaa…” Sambil melongo. Serasa dunia ini berhenti. Tak bisa aku berucap. Badan terasa kaku tak bisa bergerak. Nafas serasa terhenti. Kaget, sedih, kecewa semuanya menjadi satu. “Kok jauh Va?”
“Iya mbak, ini cita-citaku. Aku ingin melanjutkan di Tebu Ireng, Jombang.”
“oooh.” Tak bisa Aku menjawab penjelasan darinya. Saat itu ingin rasanya Aku meneteskan air mata.
Sepulang dari jalan-jalan, Aku langsung masuk kamar. Disinilah Aku luapkan perasaan yang ada dalam hatiku saat mendengar penjelasan Eva, bahwa sahabat ku yang satu ini hendak melanjutkan sekolahnya ke luar kota. Jauh dari ku, meskipun Aku tau jika dia pergi bukanlah untuk bermain, liburan, pindahan rumah ataupun hanya sekedar pergi berkunjung ke rumah saudara. Melainkan untuk mencari ilmu. Untuk menggapai cita-citanya. Ini niat yang mulia, Aku harus mengikhlaskannya.
Tak ada satu pun masa
Seindah saat kita bersama
Bermain-main hingga lupa waktu
Mungkinkah kita kan mengulangnya
Tiada… tiada lagi tawamu
Yang selalu menemani saat sedihku
Tiada… tiada lagi candamu
Ku dengarkan lagu itu samar-samar. Hingga tak ku sadari, air mata ku jatuh bercucuran. Seketika Aku mengingat akan masa-masa indah bersama sahabatku Eva. Saat Aku dan Eva pergi bersama-sama, bahagia bersama, bercerita pengalaman, bertukar pikiran. Saat itulah masa yang sangat indah. Benar-benar tak bisa ku lupakan masa itu. Kini, dia akan pergi jauh. Pastilah Aku akan sendiri disini.
“Perpisahan… perpisahan adalah salah satu hal yang paling ku benci. Awalnya bersama menjadi sendiri. Awalnya beramai-ramai menjadi sepi. Awalnya bahagia menjadi sedih.” Itulah sebaris tulisan yang tengah ku buat, sambilku dengar lagu tentang sahabat dari gita gutawa. Tulisan yang sangat menggambarkan suasana hati kecil ku.
“Toh kalo pun Dia pergi, terpisah jauhnya jarak, tapi ini semua kan demi cita-citanya. Ini juga untuk hal yang Insya Allah baik kok. Tak perlu menangis, iklaskan saja.” Gumamku dalam sunyinya malam untuk sedikit menenangkan hati kecilku.
Tak sadar jam telah menunjuk angka 10 malam. Ibuku menyuruhku untuk tidur.
“Mid, sudah malam. Tidur dulu!” suruhnya.
“Ya bu..” jawabku. Langsung ku matikan lampu kamar dan ku rebahkan tubuh yang sudah payah ini di atas tempat tidurku.
1 bulan berlalu.
Suara adzan subuh membangunkanku dari tidurku. Ku mulai hari ini dengan perasaan yang tak semangat. Aku sangat berharap jika hari ini tidak akan pernah terjadi. Karena aku tau jika Eva akan berangkat pagi ini. Sebelum berangkat, Eva pergi ke rumah ku.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalaam.. silakan masuk” jawabku
“Ya mbak, aku masuk.”
“Ada apa Va?” tanyaku demikian, meskipun aku ketahui dia datang ke rumahku untuk berpamitan.
“Mbak, hari ini aku berangkat ke Jombang. Aku mohon doanya ya mbak. Meski aku jauh disana, jangan lupakan aku. Semoga persahabatan kita terus abadi. Kita harus semangat mbak.” Jelasnya sambil mengusap air matanya, ia merasa sedih saat itu.
“Eva, tersenyumlah. Jangan menangis sahabat, kita pasti bisa menjalani ini semua kok. Ini kan tujuan dan cita-citamu. Kejarlah cita-citamu, semangat pokoknya. Kita akan terus bersahabat. Tenanglah. Disana kamu harus fokus dengan tanggung jawabmu.”
“Mm.. Ya mbak. Aku berangkat ya.”
Kami pun berpelukan untuk terakhir kalinya sebelum dia berangkat.
Beberapa menit kemudian, Eva berangkat bersama keluarganya. Aku hanya bisa mengantarkan kepergianya sampai di depan gang. Dia melambaikan tangan kepadaku. Aku membalasnya dengan senyuman.
“Selamat tinggal SAHABAT, Kejarlah cita-citamu”
Cerpen Karangan: Nur Hamidatus Sa’diyah
SEMOGA BERMANFAAT :)
Cerpen Islami :)
Setitik Cahaya Untuk Ibuku
Cerpen Karangan: Endah Nisrinasari
Hujan deras mengguyur permukaan bumi. Tajamnya pedang sang Kuasa membelah awan, menggelegarkan suara, menampakkan kilatnya.
Nampak miris dilihat, seorang wanita tengah dihujami jutaan tetes air, ditusuk tiupan angin. Tubuh lemahnya menggigil hebat. Bahkan air mata yang sebenarnya mengucur deras sudah tidak kentara, karena hebatnya guyuran air.
Sinar matanya redup, tidak ada binaran di sana. Aisyah. Wanita berusia dua puluh tiga tahun ini memiliki sebuah mutiara. Anisa. Mutiara satu-satunya yang ia miliki. Namun apa daya, ia telah pergi dari pangkuannya sekarang.
Saat baru mengenal kata ‘Pacar’, ia sudah berubah menjadi gadis yang pembangkang. Ya, Aisyah dulu adalah remaja yang hamil dibawah usia atau hamil diluar nikah. Itu pun karena kecerobohannya sendiri, membiarkan lelaki masuk ke rumahnya, lalu lelaki itu diberi kebebasan untuk memasuki berbagai ruangan. Semenjak saat itu Aisyah diusir oleh kedua orangtuanya, keluarga dan kerabatnya tidak mau membantu Aisyah sama sekali. Namun, dengan seiring bergulirnya waktu ia dapat berubah. Berubah karena sang mutiara.
“Maafkan Ibu, Nak! Andai ibu bisa menggantikan posisimu, ibu akan melakukannya. Ya Allah, kenapa tidak ambil hamba saja? Aku sudah buta dan terlalu banyak dosa. Kenapa bukan aku?”
Ibu berjilbab hitam pekat itu masih tetap terduduk lemas di tengah-tengah hujan lebat, di dekat gundukan tanah yang berpatok nama mutiara yang amat sangat ia sayangi. Pikirannya melayang, melambung tinggi, mengingat masa lalunya…
“Assalamualaikum. Ibu lihatlah aku mendapat juara satu,” gadis mungil berjilbab putih tengah berlari dengan ceria sambil menggenggam kalung berbandul emas bulat berpahat ‘Juara Satu Tadarus Al-Quran’.
“Wa’allaikum salam. Wah, benarkah? Putri ibu dapat juara satu?” Ibu itu, Aisyah. Ia segera berdiri dari duduknya walau dengan bersusah payah saat mendengar suara putrinya.
“Iya, juara satu tadarus. Aku bisa mengaji dengan benar dan lancar. Jadi, aku bisa mendapatkan ini dan ini. Yang ini untuk Ibu,” Anisa tersenyum bangga sambil menunjukkan kalung bertali warna-warni, lalu memberikan sebuah amplop kecil di atas telapak tangan sang ibu. Anisa sebenarnya tidak tahu isi amplop itu, jadi ia serahkan saja pada Ibunya.
Aisyah tersenyum bahagia. Ia sangat menyadari kalau putrinya fasih membaca kitab suci Al-Quran. Bahkan sekarang Anisa sudah hafal juz satu Al-Quran. Aisyah tidak tahu mengapa putrinya bisa secerdas ini. Tapi ia yakin bahwa kecerdasan mutiaranya adalah pemberian dari Allah SWT.
Miris memang. Ia tidak tahu seperti apa rupa wajah putrinya sekarang. Yang ia tahu adalah mutiaranya bahagia, mutiaranya begitu menyilaukan.
“Bu, nanti Nisa kalau lulus SD Anisa mau ke sekolah favorit. Boleh, ya?” Anisa nampak harap-harap cemas.
Aisyah hanya mengangguk pelan. Sebenarnya ia bingun harus mencari uang ke mana. Sudah buta hanya tukang sayur pula.
“Ya Allah, harus ke mana hamba mencari uang untuk putri hamba? Andai saat itu Engkau tidak memberikan putri hamba cobaan, aku pasti bisa membahagiakannya.”
Aisyah melamun, ia benar-benar berpikir keras kali ini. Bagaimana tidak berpikir keras? Untuk makan saja masih kurang, apalagi untuk membiayai masuk ke sekolah favorit? Pasti sangat mahal, ia tahu di mana sekolah yang diinginkan putrinya itu. Espero. SMP Negeri Loro (dua) Ngawi.
Allah SWT tidak akan memberikan cobaan yang melampaui kemampuan hambanya. Namun, apa daya? Ini adalah cobaan. Allah memberikan cobaan bukan berarti tidak sayang, melainkan Allah ingin menguji ketaqwaan hamba-Nya. Di setiap cobaan pasti Allah SWT akan ada jalan keluar.
Sejak saat Anisa mencetuskan ingin melanjutkan ke sekolah favorit, ia semakin giat belajar. Tiap naik kelas ia selalu mendapatkan juara satu baik di sekelas maupun juara umum sekolah. Yang lebih menakjubkan ialah Anisa dapat menghafal tujuh juz Al-Quran saat ia lulus sekolah dasar.
Ketika lulus sekolah dasar, Aisyah tentu kerepotan dengan masalah Anisa yang ingin melanjutkan sekolah ke sekolah menengah pertama favorit. Namun sirna sudah, lenyap semua kekuatirannya. Berkat kecerdasan yang dianugrahkan oleh Allah kepada Anisa, ia (Anisa) mendapat biaya siswa.
Allah SWT maha pemurah, pengasih, lagi maha penyayang. Sesungguhnya ia akan mengabulkan doa setiap hamba-Nya yang mau beramal soleh dan mendirikan sholat. Allah tidak pernah membedakan manusia dari paras dan harta. Ketaqwaan itulah yang membedakan manusia di hadapan Allah SWT.
Anisa melewati masa pendidikannya dengan lancar, bahkan ia sempat loncat kelas beberapa kali. Setiap adsministrasi apapun selalu gratis. Itu karena kecerdasannya yang dititipkan oleh Allah. Bahkan Anisa sudah dijamin untuk menuntut ilmu di sekolah menengah atas favorit, Smada, SMA Negeri 2 Ngawi secara gratis.
Kini Anisa sudah tumbuh menjadi gadis solehah, cantik amalnya, dan cantik parasnya. Kulitnya kuning langsat, mata bulat teduh bagaikan lentera, senyum manisnya selalu mengundang semut yang selalu mencari kemanisan. Suara lemah lembutnya begitu indah menabrak indra pendengaran, didengar seribu kali pun tidak akan pernah bosan untuk mendengarnya. Bahkan daun telinga akan merindukan getaran merdu yang ia tangkap bila sedetik tidak mendengarnya.
“Bisamillaahir Rahmaanir Rahiim..
Wat tiini waz zaytuun. Wa tuuri siiniin. Wa haazal baladil amiin. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim. Tsumma radadnaahu asfala saafiliin. Illal laziina aamanuu wa ‘amilus saalihaati falahum ajrun gayru mamnuun. Famaa yukazzibuka ba’du biddin Alaysallahuu bi-ahkamil haakimiin.” ( Q.S. At-Tin: 1-8 )
Suara merdu Anisa memenuhi ruang sunyi. Setiap makhluk Allah diam untuk mendengar suaranya. Bahkan batu sekali pun juga ikut menyimak Anisa. Hanya ada hampa di sekelilingnya. Rumah reot berdinding anyaman bambu seakan menjadi saksi amalan Anisa.
“Sadakallah huladziim,” Annisa tersenyum sambil menutup lembaran tebal yang terbalut sambul berpola indah. Lalu ia menoleh ke arah sang Ibu, “Alhamdulillah. Allah SWT memang hakim yang paling adil, Nak. Suara putri ibu merdu sekali, tajuwidnya sudah benar. Sekarang hafal berapa juz, Nak?”
Aisyah yang sedari tadi duduk bersila di dekat mutiaranya nampak berseri-seri. Lebih segar dari sebelumnya setelah mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran.
“Allah memang selalu adil, Bu. Itulah jawaban dari surat At-Tin ini. Alhamdulillah semua berkat Ibu yang selalu mengajariku. Terimakasih, Ibu. Alhamdulillah, Anisa sekarang sudah hafal lima belas juz.”
“Alhamdulillah. Nak, bukankah esok adalah hari pengambilan raport sisipan?” Suara lembut Aisyah nampak bervibrasi.
“Iya, Bu. Yang mengambil raport harus orangtua, memangnya ada apa? Bukankah Ibu sudah kuberi tahu sejak kemarin-kemarin?”
Anisa meletakkan kitab suci Al-Quran di atas meja kecil yang berada di samping kanannya, lalu melepas mukena putih kecoklat-coklatan yang ia kenakan.
“Apa ada mas..”
“Tidak, tidak ada masalah sama sekali, Nak,” Aisyah langsung memotong cepat.
Ya Allah, hamba tidak punya baju bagus yang terbuat dari sutra, hamba tidak punya pakaian yang semewah ratu. Pasti putri hamba akan malu kalau hamba datang dengan pakian kumel, jelek, lusuh.
Aisyah termangu, ia tidak bisa datang. Ia tak mau mutiaranya jatuh. Ia tak mau mutiaranya berubah menjadi usam dan tidak bersinar lagi.
“Ibu, Anisa berangkat dulu. Nanti Ibu harus datang tepat waktu. Anis tunggu di depan sekolah. Kalau begitu, Anis berangkat. Wassalamu’alaikum,” Anisa berucap dengan semangat, ia tidak menyadari raut wajah sang Ibu. Dengan segera ia menyalami Aisyah.
“Iya, hati-hati di jalan. Wa’allaikum salam.”
Aisyah melengkungkan bibirnya membentuk sabit baru. Ingin sekali rasanya ia bilang pada Anisa kalau ia tidak punya baju bagus untuk mengambil raportnya nanti. Ia yakin, pasti nanti Anisa akan malu dan dicemooh oleh teman-temannya nanti bila ia memakai baju yang jelek. Tidak, Aisyah tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
Dengan perlahan wanita berkerudung hijau tua berpipi tirus itu berjalan menggunakan tongkat kayu rapuh. Dengan segala ingatannya ia mencoba menghitung langkah menuju ke luar rumah. Kali ini bukan untuk berjualan di pasar, tapi ingin pergi ke rumah tetangga. Hanya satu tujuan, yaitu meminjam baju.
Allah SWT telah mengirimkan bidadari-bidadari pelindung ke bumi. Suatu ketika bayi mungil bertanya kepada Allah SWT saat ia hendak diturunkan ke bumi, Ya Allah, siapa yang akan melindungi hamba bila aku turun ke bumi sendirian? Bukankah banyak orang jahat yang bisa saja menyakitiku? Allah SWT berfirman yang artinya, Sesungguhnya bila engkau turun ke bumi nanti, sudah Kusiapkan seorang malaikat pelindung yang akan melindungimu. Bahkan ia rela mati hanya untuk melindungimu.
Mentari mulai di junjung tinggi oleh peraduan. Memancarkan sinar yang menerpa setiap makhluk yang berada di bumi. Borosnya intensitas cahaya membuat siapa pun yang melihatnya akan memejamkan matanya. Silau. Tapi tidak dengan wanita separuh baya yang mengenakan jilbab berwarna kuning gading itu. Walau wajahnya berseri namun hatinya tidak berseri seperti wajahnya. Hatinya resah, ia takut kalau pakaian yang ia pinjam dari tetangganya tidak sebagus milik para wali yang datang ke sekolah mutiaranya. Pakaian itu begitu sederhana, hanya sebuah gamis orange berbatik bunga-bunga anggrek kering yang menjuntai ke bawah. Setidaknya ini adalah pakaian terbaik yang tetangganya miliki. Masih syukur tetangga mau meminjami, coba kalau tidak? Aisyah hanya akan memakai daster batik murahan.
“Maaf, ada orang di sini? Bisa tolong bantu saya?” Aisyah mengeraskan suaranya yang lembut. Ia berhenti berjalan.
Pernah suatu ketika Aisyah diajak oleh Anisa menuju ke sekolah, tentu dengan berjalan kaki. Secara diam-diam, Aisyah menghitung langkah kaki dan menghafal arah jalan. Aisyah masih ingat betul, namun ia ingin tahu sudah sampai di manakah ia? Sampai di depan sekolah atau masih berada jauh dari tempat sang mutiara menunggu?
“Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” Suara berat seorang pria berbadan besar membuat Aisyah merinding.
“Saya hanya ingin bertanya, apa ini sudah dekat dengan Smada?”
“Sudah, Bu. Hanya tinggal beberapa meter saja. Mari saya antarkan.”
Gadis cantik dengan seragam batik berwarna pink dan rok menjuntai ke bawah berwarna putih sedikit lusuh masih setia berdiri di dekat gerbang sekolah. Jilbabnya yang tak seputih susu terlihat luncek di bagian ujung depan. Sedari tadi ia meremas-remas ujung jilbabnya, harap-harap cemas menanti kehadiran sang malaikat penjaganya.
Sebenarnya Allah SWT tidak pernah tidur, ia selalu memandang hambanya. Sesungguhnya, Allah SWT selalu berada di samping kita. Malulah kamu dengan perbuatan dan perkataan buruk yang kau lakukan dan ucapkan saat Allah SWT selalu bersamamu.
Anisa berjalan sambil menuntun sang malaikat yang terlihat memasang lengkungan sabit baru di bibir keringnya. Sesekali Anisa tersenyum pada teman-temannya yang menyapa. Tidak sedikit cemoohan yang telah Anisa dengar selama perjalanan menuju kelas untuk mengantar Aisyah. Anisa sangat bersyukur sang Ibu tidak mendengar ocehan tidak jelas dari teman-temannya. Walau demikian, Anisa tetap memberikan senyum lembutnya pada teman yang mencemoohnya.
“Nak, apa kelasmu masih jauh?” Aisyah nampak berkeringat.
“Sudah dekat, Bu.”
Setelah mengantarkan Aisyah masuk ke kelasnya dan duduk di bangku dengan beberapa wali yang lain, Anisa bergegas ke luar kelas.
“Eh, ternyata Ibu Anisa buta. Ya, sayang banget, anaknya pintar jurusan IPA kelas unggulan, waktu SD dan SMP sering loncat kelas, cantik, tapi Ibunya buta,” suara mlengking dari samping kiri tempat Anisa berdiri tentu membuat Anisa menoleh cepat.
“Am, dengar-dengar keluarga Anisa juga udah pecah kaya kapal pecah,” imbuh teman laki-laki Amy, Avega.
“Masaksih, Veg?”
“Iya.”
Anisa menghela napas kasar, kesabarannya benar-benar diuji sekarang. Mata lentera miliknya terpejam kuat, napasnya nampak tersenggal. Jari-jari lentiknya mengepal kuat-kuat. Wajahnya sudah merah menahan hasrat kemarahan yang dipendam.
“Sabar, Nis!” Suara berat dari sahabatnya membuat Anisa mengelus dada. Rezha.
Mutiara tidak selalu berkilau, terkadang ada kalanya untuk redup dan usam. Mutiara akan selalu digesek untuk mendapatkan keindahan yang sesungguhnya. Mutiara akan selalu diterpa gelombang, namun terkadang ia bersembunyi di balik karang. Berlindung.
Ketika Allah SWT hendak menurunkan seorang bayi ke bumi, bayi tersebut kembali bertanya, Lalu siapa yang akan merawat hamba? Apakah hamba harus hidup sendirian? Siapa yang akan menyayangiku? Allah SWT berfirman yang artinya, Sesunguhnya telah Kukirimkan malaikat untuk merawat dan menyayangimu dengan sepenuh hati. Maka sayangilah ia melebihi dirimu sendiri.
Anisa masih melamun, sedari tadi pikirannya penuh dengan asap-asap kelabu yang menyelimutinya. Di rumah reot yang beratap lubang-lubang itu napasnya terasa makin sesak ketika mengingat setiap perkataan teman-temannya. Semenjak kedatangan sang Ibu yang mengambil raport sisipan miliknya beberapa hari yang lalu, Anisa terus dicemooh. Bahkan sindiran itu terasa lebih menancap dari yang sebelumnya.
“Dengar-dengar, Ibu buta itu mengandung Anis di luar nikah mencampakkannya.”
“Katanya sih keluarganya miskin karena ulah Ibu si Anis sendiri.”
“Ah, sebenarnya kalau menurutku, Ibu Anis yang salah.”
“Ih, cantik-cantik kok miskin. Ibunya buta lagi, parahnya dia anak haram.”
Sekelabat perkataan pisau itu menyerang ulu hatinya. Matanya memanas, jemari panjangnya mengepal kuat, wajah ayunya memerah. Dapat didengar dengan jelas deruan napas memburu. Sungguh, mata lenteranya terbakar oleh apinya sendiri, kilatan amarah terlihat jelas sekarang.
Dengan langkah tergesa-gesa Anisa menghampiri Aisyah sang Ibu yang sedang berada di depan rumah. Ibu bermata hati itu tengah mempersiapkan sayur yang ditata di atas gerobak untuk dijual di pasar.
“Ibu! Apa benar kalau Ibu hamil di luar nikah? Dan apa karena Ibu juga kita jadi miskin? Apa anak itu adalah aku?” Tak ada lagi nada suara Anisa yang lembut, yang ada adalah suara Anisa bak petir membelah langit.
“Nak, kamu kenapa?” Suara Ibu Anisa melemah.
“Jawab saja!”
“Kamu tahu dari mana?” Suara parau sang Ibu tidak membuat Anisa terhenyak ataupun merasa bersalah. Ia bernar-benar kalah oleh setan.
“Dengan pertanyaan itu, kusimpulkan kalau jawabannya adalah IYA. Sekarang, Ibu pergi! Cari uang yang banyak! Aku tidak ingin melihat Ibu pulang dengan tangan kosong, bawakan aku uang yang bayak!”
Aisyah terlonjak kaget, matanya berair. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan kalau mutiaranya akan menghitam seperti ini. Seketika air matanya menetes tanpa henti. Kegelapan yang dirasakan oleh Aisyah semakin dalam saja, tidak hanya di mata di hati pun juga.
“Kamu bukan Anisa putriku. Kamu siapa?” Suara lembut Aisyah semakin bervibrasi hebat.
“Sudah kubilang, pergi! Cepat cari uang yang banyak!”
Hancur sudah perasaan Aisyah. Ulu hatinya terasa perih. Dengan perlahan kesadarannya mulai kembali, akal sehatnya mulai berlogika kembali. Langkah pendeknya ia mulai untuk mendorong gerobak tua yang ditumpangi berbagai macam jenis sayur.
“Ya, sana cepat pergi!”
“Ya Allah, apa yang Engkau lakukan pada putri hamba? Mengapa ia bisa seperti itu? Kenapa Engkau tiba-tiba mengubahnya menjadi mutiara hitam? Apa karena hamba tidak bisa membahagiakannya? Apa ini karma untuk hamba, Ya Allah? Luar biasa menyakitkan, Ya Allah.”
Dengan kasar Aisyah mengusap air matanya, dengan sigap ia mendongakan kepala ke arah langit biru yang cerah. Namun ia sendiri bingung, mengapa tidak seterang mentari? Padahal biasanya ia lebih cerah dari mentari sekali pun saat Anisa selalu menyayanginya.
“Ya, aku akan mencari uang yang banyak untuk putriku,” suara pelan itu hanya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Sudah berjam-jam Ibu bermata hati suci yang mengenakan daster batik kusam dan luncek berdiri sambil berteriak-teriak untuk menawarkan sayur-mayur yang ia jual. Kerudung hijau tua miliknya tak lagi kering, sebagian sudah basah untuk menyeka peluhnya.
“Bu, sudah waktunya shalat dhuhur. Tidak ke masjid? Biasanya dengar adzan langsung ke masjid? Atau mau berangkat bersama saya?” Suara pedagang sayur di sebelahnya sedikit mengejutkan Aisyah.
“Nanti dulu saja, Bu. Saya harus dapat uang dulu.”
“Bu, lebih baik shalat dulu. Mari ke masjid bersama-sama, saya juga mau shalat,” suara teman dagang Aisyah semakin dekat. Bertanda akan menghampirinya.
Kali ini tak ada bantahan, Aisyah menurut saat wanita yang lebih muda darinya itu menuntunnya untuk pergi ke masjid menunaikan shalat dhuhur. Sebenarnya dalam hati ia merutuki kata-katanya untuk menunda shalat. Sekarang ia takut dilaknat Allah SWT.
“Ya Allah, Engkau Maha Pengasih, Penyayang, lagi Maha Adil. Ya, Allah ampunilah dosa putriku, berikanlah ampunan-Mu. Ya Allah, maafkan hamba yang tidak sanggup membahagiakan putri hamba. Hamba tidak pantas disebut sebagai Ibu oleh Anisa. Ya Allah, kumohon berikanlah kebahagiaan untuk putriku. Amiiin Ya Rabbalal’amin.”
Aisyah mengusap air mata yang mengalir di pipinya pelan. Ia lebih tenang setelah mencurahkan isi hatinya kepada Allah SWT. Kemudian ia melepas mukena yang ia pinjam di masjid.
Allah SWT Maha Pengampun. Menyesallah kamu yang tidak mau meminta ampunan-Nya. Allah SWT Maha Adil. Setiap manusia mempunyai takdir yang telah diatur oleh-Nya, maka kita hanya perlu berusaha mengubah nasib agar menjadi takdir yang sesungguhnya.
Di setiap harinya, Aisyah semakin tak berdaya. Bahkan terkadang ia tidak pulang karena sayur yang ia jual belum laku. Pernah suatu ketika ia pulang tanpa membawa uang sepeser pun, Anisa marah besar lalu menyuruh sang Ibu untuk kembali bekerja. Semenjak Anisa kalah oleh setan, ia tidak pernah lagi mengenal shalat, tadarus, hafalan, dan Allah SWT. Naudzubillahi mindzallik.
“Hei, hamba Allah! Jangan pernah kamu menyakiti hati Ibumu! Jangan pernah kau menyakitinya. Durhakalah kamu bila melakukannya. Ketahuilah, semua yang kamu tahu dari teman-temanmu adalah salah. Bapakmulah yang menodai Ibumu dan membuat Ibumu dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Bahkan Ibumu diusir. Dan matamu adalah cahaya Ibumu. Ketahuilah Sahabat Nabi pernah bertanya, “Siapa yang harus ku sayangi terlebih dahulu, Ibu atau Bapak?” Nabi menjawab, “Ibu”. Sahabat Nabi kembali bertanya, Nabi Muhammad SAW tetap menjawab sama, “Ibu”. Lalu Sahabat Nabi bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya, jawabannya sama “Ibu”. Sahabat Nabi bertanya lagi, dan jawabannya adalah “Bapak”.
Durhakalah kamu menyakiti Ibumu, dilaknat kamu karena melupakan Allah SWT. Seburuk apapun Ibumu, terimalah ia.”
Anisa bangun dengan napas terengah-engah. Peluh membasahi dahi berkulit langsatnya. Mata lentera itu kembali lagi, ia mengerjap berkali-kali. Kedua tangannya mengelus dada.
“Mimpi apa tadi? Apakah Allah ingin menunjukkan kepadaku yang sebenarnya? Ya Allah, ampuni hamba yang telah durhaka pada Ibu dan melupakanmu. Ampuni hamba, Ya Allah, ampuni hamba,” suara Anisa bergetar hebat. Air matanya tumpah tak beraturan.
Pagi ini Aisyah baru saja pulang dari berjualan di pasar. Uang yang didapat lebih banyak dari hari biasanya. Ia yakin Anisa akan senang. Dengan senyum yang mengembang Aisyah berlari menuju dalam rumah.
“Bu, Ibu dari mana saja?” Suara lembut Ibu Rahmi tetangganya.
“Dari pasar. Memang ada apa? Kelihatannya di rumah saya kok ramai?”
“Anisa meninggal, Bu. Tadi, saat jam tiga. Anisa meninggal sehabis shalat tahajud dan membaca Al-Quran. Begitu cerita yang saya dengar-dengar.”
Masa lalu itu telah hilang, yang ada hanya masa sekarang. Masih di tengah guyuran hujan yang ditemani kilatan-kilatan dari langit. Aisyah masih tetap bersimpuh di dekat pusara sang mutiara. Bahkan ia memaki dirinya sendiri, disaat-saat terakhir putrinya ia tidak bisa membahagiakannya. Dan ia tidak tahu mengapa putrinya bisa meninggal setelah membaca Al-Quran. Inilah kekuasaan Allah SWT terhadap alam semesta beserta isinya.
Wajah Aisyah seputih pasir pantai, bibirnya yang memutih sekarang mengering, pipinya bertambah tirus dan mungkin akan semakin tirus.
“Ya Allah, kenapa putriku dahulu yang meninggalkanku?” Teriakan itu terdengar menyayat hati. Perlahan pertahanan Ibu bermata hati itu roboh. Ia pingsan.
“Assalamualaikum. Ibu, ini Anisa. Anis hanya ingin meminta maaf pada Ibu. Dan Anisa senang di sini, Anisa bahagia di sini berkat doa Ibu. Bu, Anisa sudah tahu semuanya. Maafkan Anisa yang menyakiti, Ibu. Ibu, aku sendiri yang meminta Allah untuk mengambilku, jadi Ibu tidak perlu merasa kuatir. Aku akan baik-baik saja. Bu, aku hanya ingin mengembalikan kesalahan terbesar yang mungkin indah untuk Ibu. Aku hanya ingin mengembalikan mata lentera ini. Maafkan Anisa yang selalu merepotkan Ibu. Bu, kuharap Ibu akan lebih bahagia dan lebih dekat dengan Allah tanpa diriku. Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi, Bu. Jadi Ibu tidak perlu merindukan diriku. Terimakasih, Ibu, malaikatku. Wassalamu’alaikum.”
SELESAI
Cerpen Karangan: Endah Nisrinasari
SEMOGA BEMANFAAT :)
Cerpen Karangan: Endah Nisrinasari
Hujan deras mengguyur permukaan bumi. Tajamnya pedang sang Kuasa membelah awan, menggelegarkan suara, menampakkan kilatnya.
Nampak miris dilihat, seorang wanita tengah dihujami jutaan tetes air, ditusuk tiupan angin. Tubuh lemahnya menggigil hebat. Bahkan air mata yang sebenarnya mengucur deras sudah tidak kentara, karena hebatnya guyuran air.
Sinar matanya redup, tidak ada binaran di sana. Aisyah. Wanita berusia dua puluh tiga tahun ini memiliki sebuah mutiara. Anisa. Mutiara satu-satunya yang ia miliki. Namun apa daya, ia telah pergi dari pangkuannya sekarang.
Saat baru mengenal kata ‘Pacar’, ia sudah berubah menjadi gadis yang pembangkang. Ya, Aisyah dulu adalah remaja yang hamil dibawah usia atau hamil diluar nikah. Itu pun karena kecerobohannya sendiri, membiarkan lelaki masuk ke rumahnya, lalu lelaki itu diberi kebebasan untuk memasuki berbagai ruangan. Semenjak saat itu Aisyah diusir oleh kedua orangtuanya, keluarga dan kerabatnya tidak mau membantu Aisyah sama sekali. Namun, dengan seiring bergulirnya waktu ia dapat berubah. Berubah karena sang mutiara.
“Maafkan Ibu, Nak! Andai ibu bisa menggantikan posisimu, ibu akan melakukannya. Ya Allah, kenapa tidak ambil hamba saja? Aku sudah buta dan terlalu banyak dosa. Kenapa bukan aku?”
Ibu berjilbab hitam pekat itu masih tetap terduduk lemas di tengah-tengah hujan lebat, di dekat gundukan tanah yang berpatok nama mutiara yang amat sangat ia sayangi. Pikirannya melayang, melambung tinggi, mengingat masa lalunya…
“Assalamualaikum. Ibu lihatlah aku mendapat juara satu,” gadis mungil berjilbab putih tengah berlari dengan ceria sambil menggenggam kalung berbandul emas bulat berpahat ‘Juara Satu Tadarus Al-Quran’.
“Wa’allaikum salam. Wah, benarkah? Putri ibu dapat juara satu?” Ibu itu, Aisyah. Ia segera berdiri dari duduknya walau dengan bersusah payah saat mendengar suara putrinya.
“Iya, juara satu tadarus. Aku bisa mengaji dengan benar dan lancar. Jadi, aku bisa mendapatkan ini dan ini. Yang ini untuk Ibu,” Anisa tersenyum bangga sambil menunjukkan kalung bertali warna-warni, lalu memberikan sebuah amplop kecil di atas telapak tangan sang ibu. Anisa sebenarnya tidak tahu isi amplop itu, jadi ia serahkan saja pada Ibunya.
Aisyah tersenyum bahagia. Ia sangat menyadari kalau putrinya fasih membaca kitab suci Al-Quran. Bahkan sekarang Anisa sudah hafal juz satu Al-Quran. Aisyah tidak tahu mengapa putrinya bisa secerdas ini. Tapi ia yakin bahwa kecerdasan mutiaranya adalah pemberian dari Allah SWT.
Miris memang. Ia tidak tahu seperti apa rupa wajah putrinya sekarang. Yang ia tahu adalah mutiaranya bahagia, mutiaranya begitu menyilaukan.
“Bu, nanti Nisa kalau lulus SD Anisa mau ke sekolah favorit. Boleh, ya?” Anisa nampak harap-harap cemas.
Aisyah hanya mengangguk pelan. Sebenarnya ia bingun harus mencari uang ke mana. Sudah buta hanya tukang sayur pula.
“Ya Allah, harus ke mana hamba mencari uang untuk putri hamba? Andai saat itu Engkau tidak memberikan putri hamba cobaan, aku pasti bisa membahagiakannya.”
Aisyah melamun, ia benar-benar berpikir keras kali ini. Bagaimana tidak berpikir keras? Untuk makan saja masih kurang, apalagi untuk membiayai masuk ke sekolah favorit? Pasti sangat mahal, ia tahu di mana sekolah yang diinginkan putrinya itu. Espero. SMP Negeri Loro (dua) Ngawi.
Allah SWT tidak akan memberikan cobaan yang melampaui kemampuan hambanya. Namun, apa daya? Ini adalah cobaan. Allah memberikan cobaan bukan berarti tidak sayang, melainkan Allah ingin menguji ketaqwaan hamba-Nya. Di setiap cobaan pasti Allah SWT akan ada jalan keluar.
Sejak saat Anisa mencetuskan ingin melanjutkan ke sekolah favorit, ia semakin giat belajar. Tiap naik kelas ia selalu mendapatkan juara satu baik di sekelas maupun juara umum sekolah. Yang lebih menakjubkan ialah Anisa dapat menghafal tujuh juz Al-Quran saat ia lulus sekolah dasar.
Ketika lulus sekolah dasar, Aisyah tentu kerepotan dengan masalah Anisa yang ingin melanjutkan sekolah ke sekolah menengah pertama favorit. Namun sirna sudah, lenyap semua kekuatirannya. Berkat kecerdasan yang dianugrahkan oleh Allah kepada Anisa, ia (Anisa) mendapat biaya siswa.
Allah SWT maha pemurah, pengasih, lagi maha penyayang. Sesungguhnya ia akan mengabulkan doa setiap hamba-Nya yang mau beramal soleh dan mendirikan sholat. Allah tidak pernah membedakan manusia dari paras dan harta. Ketaqwaan itulah yang membedakan manusia di hadapan Allah SWT.
Anisa melewati masa pendidikannya dengan lancar, bahkan ia sempat loncat kelas beberapa kali. Setiap adsministrasi apapun selalu gratis. Itu karena kecerdasannya yang dititipkan oleh Allah. Bahkan Anisa sudah dijamin untuk menuntut ilmu di sekolah menengah atas favorit, Smada, SMA Negeri 2 Ngawi secara gratis.
Kini Anisa sudah tumbuh menjadi gadis solehah, cantik amalnya, dan cantik parasnya. Kulitnya kuning langsat, mata bulat teduh bagaikan lentera, senyum manisnya selalu mengundang semut yang selalu mencari kemanisan. Suara lemah lembutnya begitu indah menabrak indra pendengaran, didengar seribu kali pun tidak akan pernah bosan untuk mendengarnya. Bahkan daun telinga akan merindukan getaran merdu yang ia tangkap bila sedetik tidak mendengarnya.
“Bisamillaahir Rahmaanir Rahiim..
Wat tiini waz zaytuun. Wa tuuri siiniin. Wa haazal baladil amiin. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim. Tsumma radadnaahu asfala saafiliin. Illal laziina aamanuu wa ‘amilus saalihaati falahum ajrun gayru mamnuun. Famaa yukazzibuka ba’du biddin Alaysallahuu bi-ahkamil haakimiin.” ( Q.S. At-Tin: 1-8 )
Suara merdu Anisa memenuhi ruang sunyi. Setiap makhluk Allah diam untuk mendengar suaranya. Bahkan batu sekali pun juga ikut menyimak Anisa. Hanya ada hampa di sekelilingnya. Rumah reot berdinding anyaman bambu seakan menjadi saksi amalan Anisa.
“Sadakallah huladziim,” Annisa tersenyum sambil menutup lembaran tebal yang terbalut sambul berpola indah. Lalu ia menoleh ke arah sang Ibu, “Alhamdulillah. Allah SWT memang hakim yang paling adil, Nak. Suara putri ibu merdu sekali, tajuwidnya sudah benar. Sekarang hafal berapa juz, Nak?”
Aisyah yang sedari tadi duduk bersila di dekat mutiaranya nampak berseri-seri. Lebih segar dari sebelumnya setelah mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran.
“Allah memang selalu adil, Bu. Itulah jawaban dari surat At-Tin ini. Alhamdulillah semua berkat Ibu yang selalu mengajariku. Terimakasih, Ibu. Alhamdulillah, Anisa sekarang sudah hafal lima belas juz.”
“Alhamdulillah. Nak, bukankah esok adalah hari pengambilan raport sisipan?” Suara lembut Aisyah nampak bervibrasi.
“Iya, Bu. Yang mengambil raport harus orangtua, memangnya ada apa? Bukankah Ibu sudah kuberi tahu sejak kemarin-kemarin?”
Anisa meletakkan kitab suci Al-Quran di atas meja kecil yang berada di samping kanannya, lalu melepas mukena putih kecoklat-coklatan yang ia kenakan.
“Apa ada mas..”
“Tidak, tidak ada masalah sama sekali, Nak,” Aisyah langsung memotong cepat.
Ya Allah, hamba tidak punya baju bagus yang terbuat dari sutra, hamba tidak punya pakaian yang semewah ratu. Pasti putri hamba akan malu kalau hamba datang dengan pakian kumel, jelek, lusuh.
Aisyah termangu, ia tidak bisa datang. Ia tak mau mutiaranya jatuh. Ia tak mau mutiaranya berubah menjadi usam dan tidak bersinar lagi.
“Ibu, Anisa berangkat dulu. Nanti Ibu harus datang tepat waktu. Anis tunggu di depan sekolah. Kalau begitu, Anis berangkat. Wassalamu’alaikum,” Anisa berucap dengan semangat, ia tidak menyadari raut wajah sang Ibu. Dengan segera ia menyalami Aisyah.
“Iya, hati-hati di jalan. Wa’allaikum salam.”
Aisyah melengkungkan bibirnya membentuk sabit baru. Ingin sekali rasanya ia bilang pada Anisa kalau ia tidak punya baju bagus untuk mengambil raportnya nanti. Ia yakin, pasti nanti Anisa akan malu dan dicemooh oleh teman-temannya nanti bila ia memakai baju yang jelek. Tidak, Aisyah tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
Dengan perlahan wanita berkerudung hijau tua berpipi tirus itu berjalan menggunakan tongkat kayu rapuh. Dengan segala ingatannya ia mencoba menghitung langkah menuju ke luar rumah. Kali ini bukan untuk berjualan di pasar, tapi ingin pergi ke rumah tetangga. Hanya satu tujuan, yaitu meminjam baju.
Allah SWT telah mengirimkan bidadari-bidadari pelindung ke bumi. Suatu ketika bayi mungil bertanya kepada Allah SWT saat ia hendak diturunkan ke bumi, Ya Allah, siapa yang akan melindungi hamba bila aku turun ke bumi sendirian? Bukankah banyak orang jahat yang bisa saja menyakitiku? Allah SWT berfirman yang artinya, Sesungguhnya bila engkau turun ke bumi nanti, sudah Kusiapkan seorang malaikat pelindung yang akan melindungimu. Bahkan ia rela mati hanya untuk melindungimu.
Mentari mulai di junjung tinggi oleh peraduan. Memancarkan sinar yang menerpa setiap makhluk yang berada di bumi. Borosnya intensitas cahaya membuat siapa pun yang melihatnya akan memejamkan matanya. Silau. Tapi tidak dengan wanita separuh baya yang mengenakan jilbab berwarna kuning gading itu. Walau wajahnya berseri namun hatinya tidak berseri seperti wajahnya. Hatinya resah, ia takut kalau pakaian yang ia pinjam dari tetangganya tidak sebagus milik para wali yang datang ke sekolah mutiaranya. Pakaian itu begitu sederhana, hanya sebuah gamis orange berbatik bunga-bunga anggrek kering yang menjuntai ke bawah. Setidaknya ini adalah pakaian terbaik yang tetangganya miliki. Masih syukur tetangga mau meminjami, coba kalau tidak? Aisyah hanya akan memakai daster batik murahan.
“Maaf, ada orang di sini? Bisa tolong bantu saya?” Aisyah mengeraskan suaranya yang lembut. Ia berhenti berjalan.
Pernah suatu ketika Aisyah diajak oleh Anisa menuju ke sekolah, tentu dengan berjalan kaki. Secara diam-diam, Aisyah menghitung langkah kaki dan menghafal arah jalan. Aisyah masih ingat betul, namun ia ingin tahu sudah sampai di manakah ia? Sampai di depan sekolah atau masih berada jauh dari tempat sang mutiara menunggu?
“Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” Suara berat seorang pria berbadan besar membuat Aisyah merinding.
“Saya hanya ingin bertanya, apa ini sudah dekat dengan Smada?”
“Sudah, Bu. Hanya tinggal beberapa meter saja. Mari saya antarkan.”
Gadis cantik dengan seragam batik berwarna pink dan rok menjuntai ke bawah berwarna putih sedikit lusuh masih setia berdiri di dekat gerbang sekolah. Jilbabnya yang tak seputih susu terlihat luncek di bagian ujung depan. Sedari tadi ia meremas-remas ujung jilbabnya, harap-harap cemas menanti kehadiran sang malaikat penjaganya.
Sebenarnya Allah SWT tidak pernah tidur, ia selalu memandang hambanya. Sesungguhnya, Allah SWT selalu berada di samping kita. Malulah kamu dengan perbuatan dan perkataan buruk yang kau lakukan dan ucapkan saat Allah SWT selalu bersamamu.
Anisa berjalan sambil menuntun sang malaikat yang terlihat memasang lengkungan sabit baru di bibir keringnya. Sesekali Anisa tersenyum pada teman-temannya yang menyapa. Tidak sedikit cemoohan yang telah Anisa dengar selama perjalanan menuju kelas untuk mengantar Aisyah. Anisa sangat bersyukur sang Ibu tidak mendengar ocehan tidak jelas dari teman-temannya. Walau demikian, Anisa tetap memberikan senyum lembutnya pada teman yang mencemoohnya.
“Nak, apa kelasmu masih jauh?” Aisyah nampak berkeringat.
“Sudah dekat, Bu.”
Setelah mengantarkan Aisyah masuk ke kelasnya dan duduk di bangku dengan beberapa wali yang lain, Anisa bergegas ke luar kelas.
“Eh, ternyata Ibu Anisa buta. Ya, sayang banget, anaknya pintar jurusan IPA kelas unggulan, waktu SD dan SMP sering loncat kelas, cantik, tapi Ibunya buta,” suara mlengking dari samping kiri tempat Anisa berdiri tentu membuat Anisa menoleh cepat.
“Am, dengar-dengar keluarga Anisa juga udah pecah kaya kapal pecah,” imbuh teman laki-laki Amy, Avega.
“Masaksih, Veg?”
“Iya.”
Anisa menghela napas kasar, kesabarannya benar-benar diuji sekarang. Mata lentera miliknya terpejam kuat, napasnya nampak tersenggal. Jari-jari lentiknya mengepal kuat-kuat. Wajahnya sudah merah menahan hasrat kemarahan yang dipendam.
“Sabar, Nis!” Suara berat dari sahabatnya membuat Anisa mengelus dada. Rezha.
Mutiara tidak selalu berkilau, terkadang ada kalanya untuk redup dan usam. Mutiara akan selalu digesek untuk mendapatkan keindahan yang sesungguhnya. Mutiara akan selalu diterpa gelombang, namun terkadang ia bersembunyi di balik karang. Berlindung.
Ketika Allah SWT hendak menurunkan seorang bayi ke bumi, bayi tersebut kembali bertanya, Lalu siapa yang akan merawat hamba? Apakah hamba harus hidup sendirian? Siapa yang akan menyayangiku? Allah SWT berfirman yang artinya, Sesunguhnya telah Kukirimkan malaikat untuk merawat dan menyayangimu dengan sepenuh hati. Maka sayangilah ia melebihi dirimu sendiri.
Anisa masih melamun, sedari tadi pikirannya penuh dengan asap-asap kelabu yang menyelimutinya. Di rumah reot yang beratap lubang-lubang itu napasnya terasa makin sesak ketika mengingat setiap perkataan teman-temannya. Semenjak kedatangan sang Ibu yang mengambil raport sisipan miliknya beberapa hari yang lalu, Anisa terus dicemooh. Bahkan sindiran itu terasa lebih menancap dari yang sebelumnya.
“Dengar-dengar, Ibu buta itu mengandung Anis di luar nikah mencampakkannya.”
“Katanya sih keluarganya miskin karena ulah Ibu si Anis sendiri.”
“Ah, sebenarnya kalau menurutku, Ibu Anis yang salah.”
“Ih, cantik-cantik kok miskin. Ibunya buta lagi, parahnya dia anak haram.”
Sekelabat perkataan pisau itu menyerang ulu hatinya. Matanya memanas, jemari panjangnya mengepal kuat, wajah ayunya memerah. Dapat didengar dengan jelas deruan napas memburu. Sungguh, mata lenteranya terbakar oleh apinya sendiri, kilatan amarah terlihat jelas sekarang.
Dengan langkah tergesa-gesa Anisa menghampiri Aisyah sang Ibu yang sedang berada di depan rumah. Ibu bermata hati itu tengah mempersiapkan sayur yang ditata di atas gerobak untuk dijual di pasar.
“Ibu! Apa benar kalau Ibu hamil di luar nikah? Dan apa karena Ibu juga kita jadi miskin? Apa anak itu adalah aku?” Tak ada lagi nada suara Anisa yang lembut, yang ada adalah suara Anisa bak petir membelah langit.
“Nak, kamu kenapa?” Suara Ibu Anisa melemah.
“Jawab saja!”
“Kamu tahu dari mana?” Suara parau sang Ibu tidak membuat Anisa terhenyak ataupun merasa bersalah. Ia bernar-benar kalah oleh setan.
“Dengan pertanyaan itu, kusimpulkan kalau jawabannya adalah IYA. Sekarang, Ibu pergi! Cari uang yang banyak! Aku tidak ingin melihat Ibu pulang dengan tangan kosong, bawakan aku uang yang bayak!”
Aisyah terlonjak kaget, matanya berair. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan kalau mutiaranya akan menghitam seperti ini. Seketika air matanya menetes tanpa henti. Kegelapan yang dirasakan oleh Aisyah semakin dalam saja, tidak hanya di mata di hati pun juga.
“Kamu bukan Anisa putriku. Kamu siapa?” Suara lembut Aisyah semakin bervibrasi hebat.
“Sudah kubilang, pergi! Cepat cari uang yang banyak!”
Hancur sudah perasaan Aisyah. Ulu hatinya terasa perih. Dengan perlahan kesadarannya mulai kembali, akal sehatnya mulai berlogika kembali. Langkah pendeknya ia mulai untuk mendorong gerobak tua yang ditumpangi berbagai macam jenis sayur.
“Ya, sana cepat pergi!”
“Ya Allah, apa yang Engkau lakukan pada putri hamba? Mengapa ia bisa seperti itu? Kenapa Engkau tiba-tiba mengubahnya menjadi mutiara hitam? Apa karena hamba tidak bisa membahagiakannya? Apa ini karma untuk hamba, Ya Allah? Luar biasa menyakitkan, Ya Allah.”
Dengan kasar Aisyah mengusap air matanya, dengan sigap ia mendongakan kepala ke arah langit biru yang cerah. Namun ia sendiri bingung, mengapa tidak seterang mentari? Padahal biasanya ia lebih cerah dari mentari sekali pun saat Anisa selalu menyayanginya.
“Ya, aku akan mencari uang yang banyak untuk putriku,” suara pelan itu hanya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Sudah berjam-jam Ibu bermata hati suci yang mengenakan daster batik kusam dan luncek berdiri sambil berteriak-teriak untuk menawarkan sayur-mayur yang ia jual. Kerudung hijau tua miliknya tak lagi kering, sebagian sudah basah untuk menyeka peluhnya.
“Bu, sudah waktunya shalat dhuhur. Tidak ke masjid? Biasanya dengar adzan langsung ke masjid? Atau mau berangkat bersama saya?” Suara pedagang sayur di sebelahnya sedikit mengejutkan Aisyah.
“Nanti dulu saja, Bu. Saya harus dapat uang dulu.”
“Bu, lebih baik shalat dulu. Mari ke masjid bersama-sama, saya juga mau shalat,” suara teman dagang Aisyah semakin dekat. Bertanda akan menghampirinya.
Kali ini tak ada bantahan, Aisyah menurut saat wanita yang lebih muda darinya itu menuntunnya untuk pergi ke masjid menunaikan shalat dhuhur. Sebenarnya dalam hati ia merutuki kata-katanya untuk menunda shalat. Sekarang ia takut dilaknat Allah SWT.
“Ya Allah, Engkau Maha Pengasih, Penyayang, lagi Maha Adil. Ya, Allah ampunilah dosa putriku, berikanlah ampunan-Mu. Ya Allah, maafkan hamba yang tidak sanggup membahagiakan putri hamba. Hamba tidak pantas disebut sebagai Ibu oleh Anisa. Ya Allah, kumohon berikanlah kebahagiaan untuk putriku. Amiiin Ya Rabbalal’amin.”
Aisyah mengusap air mata yang mengalir di pipinya pelan. Ia lebih tenang setelah mencurahkan isi hatinya kepada Allah SWT. Kemudian ia melepas mukena yang ia pinjam di masjid.
Allah SWT Maha Pengampun. Menyesallah kamu yang tidak mau meminta ampunan-Nya. Allah SWT Maha Adil. Setiap manusia mempunyai takdir yang telah diatur oleh-Nya, maka kita hanya perlu berusaha mengubah nasib agar menjadi takdir yang sesungguhnya.
Di setiap harinya, Aisyah semakin tak berdaya. Bahkan terkadang ia tidak pulang karena sayur yang ia jual belum laku. Pernah suatu ketika ia pulang tanpa membawa uang sepeser pun, Anisa marah besar lalu menyuruh sang Ibu untuk kembali bekerja. Semenjak Anisa kalah oleh setan, ia tidak pernah lagi mengenal shalat, tadarus, hafalan, dan Allah SWT. Naudzubillahi mindzallik.
“Hei, hamba Allah! Jangan pernah kamu menyakiti hati Ibumu! Jangan pernah kau menyakitinya. Durhakalah kamu bila melakukannya. Ketahuilah, semua yang kamu tahu dari teman-temanmu adalah salah. Bapakmulah yang menodai Ibumu dan membuat Ibumu dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Bahkan Ibumu diusir. Dan matamu adalah cahaya Ibumu. Ketahuilah Sahabat Nabi pernah bertanya, “Siapa yang harus ku sayangi terlebih dahulu, Ibu atau Bapak?” Nabi menjawab, “Ibu”. Sahabat Nabi kembali bertanya, Nabi Muhammad SAW tetap menjawab sama, “Ibu”. Lalu Sahabat Nabi bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya, jawabannya sama “Ibu”. Sahabat Nabi bertanya lagi, dan jawabannya adalah “Bapak”.
Durhakalah kamu menyakiti Ibumu, dilaknat kamu karena melupakan Allah SWT. Seburuk apapun Ibumu, terimalah ia.”
Anisa bangun dengan napas terengah-engah. Peluh membasahi dahi berkulit langsatnya. Mata lentera itu kembali lagi, ia mengerjap berkali-kali. Kedua tangannya mengelus dada.
“Mimpi apa tadi? Apakah Allah ingin menunjukkan kepadaku yang sebenarnya? Ya Allah, ampuni hamba yang telah durhaka pada Ibu dan melupakanmu. Ampuni hamba, Ya Allah, ampuni hamba,” suara Anisa bergetar hebat. Air matanya tumpah tak beraturan.
Pagi ini Aisyah baru saja pulang dari berjualan di pasar. Uang yang didapat lebih banyak dari hari biasanya. Ia yakin Anisa akan senang. Dengan senyum yang mengembang Aisyah berlari menuju dalam rumah.
“Bu, Ibu dari mana saja?” Suara lembut Ibu Rahmi tetangganya.
“Dari pasar. Memang ada apa? Kelihatannya di rumah saya kok ramai?”
“Anisa meninggal, Bu. Tadi, saat jam tiga. Anisa meninggal sehabis shalat tahajud dan membaca Al-Quran. Begitu cerita yang saya dengar-dengar.”
Masa lalu itu telah hilang, yang ada hanya masa sekarang. Masih di tengah guyuran hujan yang ditemani kilatan-kilatan dari langit. Aisyah masih tetap bersimpuh di dekat pusara sang mutiara. Bahkan ia memaki dirinya sendiri, disaat-saat terakhir putrinya ia tidak bisa membahagiakannya. Dan ia tidak tahu mengapa putrinya bisa meninggal setelah membaca Al-Quran. Inilah kekuasaan Allah SWT terhadap alam semesta beserta isinya.
Wajah Aisyah seputih pasir pantai, bibirnya yang memutih sekarang mengering, pipinya bertambah tirus dan mungkin akan semakin tirus.
“Ya Allah, kenapa putriku dahulu yang meninggalkanku?” Teriakan itu terdengar menyayat hati. Perlahan pertahanan Ibu bermata hati itu roboh. Ia pingsan.
“Assalamualaikum. Ibu, ini Anisa. Anis hanya ingin meminta maaf pada Ibu. Dan Anisa senang di sini, Anisa bahagia di sini berkat doa Ibu. Bu, Anisa sudah tahu semuanya. Maafkan Anisa yang menyakiti, Ibu. Ibu, aku sendiri yang meminta Allah untuk mengambilku, jadi Ibu tidak perlu merasa kuatir. Aku akan baik-baik saja. Bu, aku hanya ingin mengembalikan kesalahan terbesar yang mungkin indah untuk Ibu. Aku hanya ingin mengembalikan mata lentera ini. Maafkan Anisa yang selalu merepotkan Ibu. Bu, kuharap Ibu akan lebih bahagia dan lebih dekat dengan Allah tanpa diriku. Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi, Bu. Jadi Ibu tidak perlu merindukan diriku. Terimakasih, Ibu, malaikatku. Wassalamu’alaikum.”
SELESAI
Cerpen Karangan: Endah Nisrinasari
SEMOGA BEMANFAAT :)
Cerpen Motivasi :)
Impian Sang Bintang
Cerpen Karangan: Puji Lestari
Namaku Bintang Nesya Permata Putri, aku biasa dipanggil Bintang oleh kedua orangtuaku. Saat ini aku berusia 15 tahun, aku duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Atas.
Aku bersyukur dan merasa bangga bisa masuk ke sekolah Favorit, karena aku mendapatkan beasiswa di sekolah itu. Semua itu tak lepas karena dukungan kedua orangtuaku. Hidup dengan berkecukupan, tak menghalangiku untuk berprestasi dan mencapai cita-cita ku, belajar dengan sungguh-sungguh itu adalah tekad ku.
Di pagi hari yang cerah ini, aku dengan riang gembira menuju ke sekolah, aku melangkahkan kakiku di sekolahku yang baru. Di depan pintu gerbang, aku berandai dan berharap, semoga impianku tercapai di sekolah ini. Semangat baru, teman baru dan lingkungan baru itulah yang terlintas di benakku. Aku berusaha menebarkan senyuman di wajahku.
Aku menghampiri sebuah mading pengumuman kelas, di mana aku melihat namaku tertulis jelas dan berada di kelas unggulan. “Bintang Nesya Permata Putri”, hal itulah yang membuatku bertambah semangat untuk menuntut ilmu disini. Aku berjalan menelusuri kelas-kelas, dan mencari dimana letak kelasku.
“braakk!!” aku tak sengaja menabrak seseorang.
“maaf-maaf, aku gak sengaja” Bintang meminta maaf
“Eh, hati-hati dong kalau jalan!!” dengan nada kesal
“iya, maaf. Hay, perkenalkan namaku Bintang!” Bintang mengulurkan tangannya dan mengajaknya berkenalan.
“Riska!” jawabnya dengan cetus dan berlalu begitu saja.
Ya ampun, kenapa aku harus bertemu dengan Mak Lampir!! Gerutu Bintang dalam hati.
Upss, tapikan aku yang salah, dan aku juga yang gak hati-hati karena terlalu bersemangat. Bintang menyalahkan dirinnya sendiri
Bintang terus berjalan dan mengingat-ingat letak kelasnya dan ia berharap semoga tidak sekelas dengan orang yang tadi ia tabrak.
Dan akhirnya Bintang menemukan kelasnya..
Kelas X-A, yapss ini kelasku. Bintang segera masuk ke dalam kelas, dan ia memilih bangku yang berada di tengah, tampak orang-orang asing yang nantinya akan menjadi teman-temannya. ia tercengang, saat melihat seseorang yang tadi ia tabrak, betapa angkuhnya dia, oh tidak!! Mengapa aku harus sekelas dengannya!.. Rasa semangat Bintang seketika luntur, karena harus sekelas dengan Riska.
Hari pertama masuk sekolah, adalah hari yang sangat menyebalkan buat Bintang. ia merasa minder berada di sekolah itu, bahkan ia merasa berbeda dengan anak-anak yang sekolah disitu.
“Rasanya tak ingin aku melanjutkan sekolah disini, tapi bagaimana dengan impianku?” Ucap Bintang
Sebuah impian yang ingin ia wujudkan untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah disitu.
Jam pelajaran pun telah usai, bel pun berdering, “kring, kring, kring”. Seluruh siswa dan siswi pun diperbolehkan pulang, hari pertama masuk sekolah, pulang begitu cepat karena hanya sekedar berkenalan dan menyusun struktur kelas.
Bintang pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda miliknya, sedangkan teman-temanya banyak yang menggunakan motor, bahkan ada yang menggunakan mobil.
Bintang pun sampai di rumahnya
“Assalamu’alaikum” ucap Bintang ketika sampai di rumah.
“Wa’alaikum salam” jawab kedua orangtuanya Bintang.
Bintang pun tak lupa mencium tangan kedua orangtuanya.
“Bintang, sudah pulang, bagaimana sekolah barunya?” Tanya Ibunya bintang.
“Alhamdulillah bu, Bintang senang sekolah disitu..” jawab Bintang sambil merangkul pundak Ibunya.
Bintang bergegas masuk ke dalam kamarnya, untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu ia merebahkan badanya ke kasur. “rasanya sangat lelah” gumam bintang, saat itu juga ia terlelap dengan nyenyak.
Keesokan harinya ketika Bintang masuk sekolah.
“Eh, ada si miskin” ejek Riska CS.
“minggir teman-teman si miskin mau lewat” ejeknya lagi sambil tertawa.
Seketika itu juga Bintang lari menuju taman belakang sekolah, ia berlari dengan berlinangan air mata. Bintang duduk di taman itu, sambil meratapi nasibnya.
“masuk sekolah yang katanya terfavorit memang membuatku senang bisa sekolah disini. tapi apakah aku tidak pantas bisa sekolah di sini, memang benar aku hanyalah orang biasa”. Ucap Bintang dalam hati sambil tersedu-sedu. Ia sangat sedih mengingat perkataan Riska.
Tap.. tap.. tap, terdengar suara langkahan kaki yang menghampiri Bintang.
“hay, Bintang” sapa seseorang yang menghampiri Bintang.
Bintang mengusap air matanya dan membalikkan badannya
“hay juga,” jawab Bintang dengan ramah.
“namaku Fitri, mau berteman denganku?”
Bintang mengangukan kepalanya, “sepertinya aku baru melihatmu hari ini?” tanya Bintang.
“Ya, aku memang baru masuk hari ini..” jawab Fitri.
Bintang bersyukur masih ada Fitri, setidaknya dia masih mau berteman dengan Bintang.
Setelah mereka mengobrol, mereka pun kembali ke kelas dan sekarang Bintang pun mempunyai seorang teman. Yaitu Fitri. Mereka pun berteman dengan baik.
Jam pelajaran pertama dimulai, Pak Tejo adalah seorang guru killer, namun baik hatinya.
Pelajaran matematika, memang pelajaran yang membosankan. Namun tidak untuk bintang, karena ia memang hobi berhitung sejak dulu. Ia terus memperhatikan Pak Tejo yang sedang mengajar.
Pak Tejo memberikan soal di papan tulis dan bertanya “siapa yang bisa mengerjakan soal ini!!”
Bintang pun mengangkat tangannya, namun ia kalah cepat dari Riska.
Riska pun maju ke depan, ia mengerjakan soal dengan cepat, secepat kilat tanpa menghapusnya.
“Kurasa, ia sudah terlatih” bisik Bintang kepada Fitri.
“Riska, memang orang yang cerdas” jawab Fitri
“Bagaimana kamu tau?” Tanya Bintang lagi. karena ia bingung sepertinya Fitri dan Riska sudah lama kenal.
“Aku dan Riska memang satu sekolah sejak SMP, dan Riska memang terkenal pandai, tapi sifatnya yang cendrung angkuh, membuatku tak ingin berteman dengannya lagi”. Jawab Fitri menjelaskan panjang lebar.
Pelajaran matematika telah usai, Pak Tejo tak lupa memberikan PR.
“Bintang, ngerjain PR bareng yukk!!” ajak Fitri
“ayo, boleh-boleh, ngerjain dimana?”. Tanya Bintang
“Di sekolah aja, abis pulang sekolah…”
“Oke” Bintang meng-iyakan ajakan Fitri
Eh, teman-teman nanti siapa yang mau ikutan belajar bareng? Teriak Fitri.
Semuanya mengacungkan tangan kecuali Riska. Fitri mencoba mengajak Riska agar ia ikut
“Riska, mau ikutan gak?”
“kayanya engga deh, aku mau ngerjain PR di tempat les ku aja!!” jawab Riska tanpa mengubah pikirannya.
Sepulang sekolah, mereka dengan antusias mengerjakan PR bersama, semakin lama, mereka semakin akrab, semenjak mereka sering ngumpul bersama. Bahkan mereka selalu melakukan kegiatan rutin belajar kelompok bersama sepulang sekolah.
“Ulala, pelajaran Pak Tejo lagi!!” ucap Fitri menggerutu.
“tenang pit, kita kan udah belajar bareng!”
“tapi, aku kan gak sepintar kamu Tang!” Fitri memuji Bintang.
“Ststtstt, sudah-sudah Pak Tejo sudah datang”
Anak–anak, apa kalian sudah mengerjakan PR semuanya!! Tanya Pak Tejo dengan garang.
“Sudah Pak!” Jawab siswa dan siswi dengan kompak.
Bagus-bagus! Ucap Pak Tejo
Riska, kerjakan nomor 1! Perintah Pak Tejo.
Riska pun maju ke depan, dan seperti biasanya ia selalu mengerjakan soal dengan mudahnya.
Pak Tejo membuka buku absen, dan menunjuk 1 orang untuk maju selanjutnya.
Seluruh siswa dan siswi merasa deg-degan, karena takut menjadi sasaran selanjutnya yang akan dipanggil oleh Pak Tejo.
“Fitri Indah Sari” kerjakan nomor selanjutnya
Fitri mulai mengerjakan soal itu dengan gemetaran, Fitri berkali-kali menghapusnya, tapi ia berhasil mengerjakanya walaupun ia mengerjakanya tak secepat Riska.
“Wah, hebat kamu Fitri, kamu yang biasanya gak bisa ngerjain, sekarang pandai sekali!” Kata Pak Tejo, memuji Fitri ketika sudah selesai mengerjakan soal.
“Hehe, iya dong Pak!!” jawab Fitri ia pun kembali ke tempat duduknya.
“Anak-anak, Bapak bangga dengan kelas ini, karena kelas ini menunjukan kemajuan yang sangat pesat dalam belajar”.
Seluruh siswa dan siswi bertepuk tangan, karena merasa gembira.
“Iya dong Pak, kita kan mengadakan kegiatan belajar kelompok, dengan rutin!” Sahut Fitri
“Bagus-bagus! Belajar kelompok memang salah satu cara yang paling ampuh dalam belajar. Selain soal menjadi mudah, kita juga mempunyai banyak teman, daripada kita harus mengerjakanya sendiri!” Respon Pak Tejo.
Saat itu, tiba-tiba ibu kepala sekolah masuk ke kelas X-A. Seluruh siswa dan siswi merasa bingung, karena tidak biasanya ibu kepala sekolah datang ke kelasnya. Seluruhnya merasa deg-degan dibuatnya, karena mereka tidak tau apa maksud kedatangan Bu Kepsek.
“Anak-anak ibu akan membawa kabar gembira” ucap Bu Kepsek
“Kabar gembira apa bu?” Tanya seluruh siswa dan siswi serempak.
“Anak-anak, sekolah kita akan mengikuti sebuah olimpiade matematika, dan Ibu akan memilih perwakilanya dari kelas ini, dan Ibu akan memilih…”
Saat seluruhya serius menunggu siapa nama yang akan di ucapkan oleh Bu Kepsek, tiba-tiba bel istirahat berbunyi “kring, kring, kring”
“Yahh,” ucap seluruh siswa dan siswi sambil tertawa.
“Siapa Bu orangnya, lanjutkan Bu,” teriak seluruhnya.
“Riska dan Bintang! Kalian yang akan menjadi perwakilan sekolah.” Ucap Bu Kepsek dan Pak Tejo.
“Wahh, selamat ya Tang!” Fitri memberi selamat kepada Bintang.
“Iya, maksih pit..”
Bintang merasa senang karena ia terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk lomba olimpiade matematika. karena ini merupakan pengalaman pertamanya di SMA.
Saat itu ia meluapkan kegembiraanya lewat buku kecilnya yang selalu ia bawa saat sekolah, buku itu berisi curhatan-curhatan Bintang.
Dear Diary
Hari ini, aku senang sekali, karena aku terpilih menjadi peserta lomba olimpiade matematika, aku janji aku ga akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku berharap aku bisa mewujudkan keinginanku!!
Pasti bisa Tang? semangat!! good luck..
Setelah ia merasa lega telah menulisnya, ia menutup buku kecilnya dan menyimpannya di tas.
“Tang, ke kantin yukk!” Fitri datang menghampiri Bintang.
“Ayok, pit!” Sambil menarik tangannya Fitri.
“Makan bakso yuk tang!” Ajak Fitri ketika sampai di kantin.
“Emm, enggak deh aku lagi ngumpulin uang buat ditabung nihh!” Tolak Bintang
“Eh, tenang aja aku yang bayarin kok!” Tawar Fitri
Belum sempat Bintang menjawabnya, Fitri sudah memesan baksonya.
“Hehe, makasih Pit..”
“Iya, sama-sama tang, kamu kan udah ngajarin aku matematika.”
“Tang, besok semangat ya, buat lombanya, jangan mau kalah sama Riska!” Kata Fitri sambil mengacungkan jempolnya.
“Tapi aku gak yakin Pit,” jawab Bintang pesimis.
“Duh, kenapa harus pesimis sih Tang”
Dia itu pintar banget, kan kamu sendiri yang pernah bilang!
“iya sih, dia itu emang orang terpintar di sekolah ini.. tapi gak ada yang gak mungkin Tang, di dunia ini”
“Butuh usaha yang keras Tang, untuk hasil yang maksimal” seketika Fitri berubah menjadi sang motivator.
“Dan ini kesempatan kamu Tang, untuk ngebuktiin ke dia, kalau gak hanya dia yang paling pintar, karena di atas langit, masih ada langit..” ucap Fitri menjadi motivator tiada henti-hentinya.
“Udah-udah ngobrolnya nanti lagi, sekarang makan aja dulu” jawab Bintang dengan santai.
Setelah mereka selesai makan, mereka kembali ke kelas, dan ketika sampai di kelas
“Tang, semangat ya, Buat lombanya!” Terdengar suara teman-teman sekelasnya menyemangatinya
“Iya, makasih kawan” jawab bintang
H -1 nih, pikiran Bintang mulai was-was. Takut, senang, itulah yang saat ini ia rasakan
Mengapa tidak? Sebab ia tidak menyangka akan terpilih sebagai peserta lomba olimpiade matematika, dan ia takut dengan pesaing-pesaing nya yang jauh lebih pintar darinya.
Optimis Tang, optimis! Bintang berusaha meyakini dirinya sendiri.
Ia mengeluarkan buku kecilnya lagi dan ia menulis isi hatinya di buku itu
Dear Diary
H -1 lomba, gak ada yang gak mungkin di dunia ini. Hmm, bener juga kata Fitri..
Pengen banget buat ortu bangga
Hari ini adalah hari saatnya Bintang berlomba, Bintang pun percaya diri setelah mendapatkan motivasi dari sahabatnya.. kini impianya bukan hanya 1. tapi, selain ia ingin membahagiakan orangtuanya, bintang juga ingin membuktikan kalau dia bisa, ia tidak ingin dipandang sebelah mata oleh Riska. Ia ingin menunjukan kebolehanya, tanpa tinggi hati. Ia ingin tetap menjadi bintang yang rendah hati.
Teng, waktu dimulainya mengerjakan lomba. Berbagai macam peserta, dari sekolah yang ada di seluruh indonesia. karena ini merupakan olimpiade Nasional. Beratus-ratusan peserta yang ikut.
Bintang mengerjakannya dengan tenang, ia tidak terpengaruh dengan peserta-peserta yang telah selesai.. ia tetap percaya kepada kemampuanya karena ia telah berusaha dan berdoa.
Sedangkan Riska ia mengerjakannya dengan terlalu percaya diri dengan kemampuannya yang ia miliki. Ia sangat menyombongkan diri, dan ia sangat yakin, kalau dialah yang akan menang.
Lomba telah selesai, kini seluruh peserta hanya tinggal menunggu pengumuman siapa yang akan menjadi sang juara.
2 jam telah berlalu, kini saatnya yang paling mendebarkan, dan akhirnya
Juara 1 jatuh kepada “Bintang Nesya Permata Putri”..
Bintang pun menangis karena terharu, ia tidak menyangka, bahwa ialah pemenangnya.
Sedangkan Riska hanya meraih juara harapan 1, orang yang biasanya terpintar di sekolahnya.
Seluruh teman-temanya memberi ucapan selamat kepada Bintang. Semuanya pun ikut menangis karena bahagia.
Riska yang pada saat itu kalah dari Bintang, ia pun kini menyadari karena ia terlalu menyombongkan diri. Dan kini ia pun mengakui bahwa Bintanglah “Sang Juaranya”.
Dan Riska pun memberanikan dirinya untuk minta maaf kepada Bintang. karena ia pernah mengejeknya. Bintang pun memaafkannya.
Kini impian Bintang telah terwujud, tak hanya menjadi seorang bintang, tapi juga menjadi seseorang yang rendah hati. karena keberhasilan yang telah ia peroleh bukan saja karena kemampuanya, tapi karena motivasi orang-orang sekitarnya lah yang membuat ia menjadi berhasil.
Cerpen Karangan: Puji Lestari
Cerpen Karangan: Puji Lestari
Namaku Bintang Nesya Permata Putri, aku biasa dipanggil Bintang oleh kedua orangtuaku. Saat ini aku berusia 15 tahun, aku duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Atas.
Aku bersyukur dan merasa bangga bisa masuk ke sekolah Favorit, karena aku mendapatkan beasiswa di sekolah itu. Semua itu tak lepas karena dukungan kedua orangtuaku. Hidup dengan berkecukupan, tak menghalangiku untuk berprestasi dan mencapai cita-cita ku, belajar dengan sungguh-sungguh itu adalah tekad ku.
Di pagi hari yang cerah ini, aku dengan riang gembira menuju ke sekolah, aku melangkahkan kakiku di sekolahku yang baru. Di depan pintu gerbang, aku berandai dan berharap, semoga impianku tercapai di sekolah ini. Semangat baru, teman baru dan lingkungan baru itulah yang terlintas di benakku. Aku berusaha menebarkan senyuman di wajahku.
Aku menghampiri sebuah mading pengumuman kelas, di mana aku melihat namaku tertulis jelas dan berada di kelas unggulan. “Bintang Nesya Permata Putri”, hal itulah yang membuatku bertambah semangat untuk menuntut ilmu disini. Aku berjalan menelusuri kelas-kelas, dan mencari dimana letak kelasku.
“braakk!!” aku tak sengaja menabrak seseorang.
“maaf-maaf, aku gak sengaja” Bintang meminta maaf
“Eh, hati-hati dong kalau jalan!!” dengan nada kesal
“iya, maaf. Hay, perkenalkan namaku Bintang!” Bintang mengulurkan tangannya dan mengajaknya berkenalan.
“Riska!” jawabnya dengan cetus dan berlalu begitu saja.
Ya ampun, kenapa aku harus bertemu dengan Mak Lampir!! Gerutu Bintang dalam hati.
Upss, tapikan aku yang salah, dan aku juga yang gak hati-hati karena terlalu bersemangat. Bintang menyalahkan dirinnya sendiri
Bintang terus berjalan dan mengingat-ingat letak kelasnya dan ia berharap semoga tidak sekelas dengan orang yang tadi ia tabrak.
Dan akhirnya Bintang menemukan kelasnya..
Kelas X-A, yapss ini kelasku. Bintang segera masuk ke dalam kelas, dan ia memilih bangku yang berada di tengah, tampak orang-orang asing yang nantinya akan menjadi teman-temannya. ia tercengang, saat melihat seseorang yang tadi ia tabrak, betapa angkuhnya dia, oh tidak!! Mengapa aku harus sekelas dengannya!.. Rasa semangat Bintang seketika luntur, karena harus sekelas dengan Riska.
Hari pertama masuk sekolah, adalah hari yang sangat menyebalkan buat Bintang. ia merasa minder berada di sekolah itu, bahkan ia merasa berbeda dengan anak-anak yang sekolah disitu.
“Rasanya tak ingin aku melanjutkan sekolah disini, tapi bagaimana dengan impianku?” Ucap Bintang
Sebuah impian yang ingin ia wujudkan untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah disitu.
Jam pelajaran pun telah usai, bel pun berdering, “kring, kring, kring”. Seluruh siswa dan siswi pun diperbolehkan pulang, hari pertama masuk sekolah, pulang begitu cepat karena hanya sekedar berkenalan dan menyusun struktur kelas.
Bintang pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda miliknya, sedangkan teman-temanya banyak yang menggunakan motor, bahkan ada yang menggunakan mobil.
Bintang pun sampai di rumahnya
“Assalamu’alaikum” ucap Bintang ketika sampai di rumah.
“Wa’alaikum salam” jawab kedua orangtuanya Bintang.
Bintang pun tak lupa mencium tangan kedua orangtuanya.
“Bintang, sudah pulang, bagaimana sekolah barunya?” Tanya Ibunya bintang.
“Alhamdulillah bu, Bintang senang sekolah disitu..” jawab Bintang sambil merangkul pundak Ibunya.
Bintang bergegas masuk ke dalam kamarnya, untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu ia merebahkan badanya ke kasur. “rasanya sangat lelah” gumam bintang, saat itu juga ia terlelap dengan nyenyak.
Keesokan harinya ketika Bintang masuk sekolah.
“Eh, ada si miskin” ejek Riska CS.
“minggir teman-teman si miskin mau lewat” ejeknya lagi sambil tertawa.
Seketika itu juga Bintang lari menuju taman belakang sekolah, ia berlari dengan berlinangan air mata. Bintang duduk di taman itu, sambil meratapi nasibnya.
“masuk sekolah yang katanya terfavorit memang membuatku senang bisa sekolah disini. tapi apakah aku tidak pantas bisa sekolah di sini, memang benar aku hanyalah orang biasa”. Ucap Bintang dalam hati sambil tersedu-sedu. Ia sangat sedih mengingat perkataan Riska.
Tap.. tap.. tap, terdengar suara langkahan kaki yang menghampiri Bintang.
“hay, Bintang” sapa seseorang yang menghampiri Bintang.
Bintang mengusap air matanya dan membalikkan badannya
“hay juga,” jawab Bintang dengan ramah.
“namaku Fitri, mau berteman denganku?”
Bintang mengangukan kepalanya, “sepertinya aku baru melihatmu hari ini?” tanya Bintang.
“Ya, aku memang baru masuk hari ini..” jawab Fitri.
Bintang bersyukur masih ada Fitri, setidaknya dia masih mau berteman dengan Bintang.
Setelah mereka mengobrol, mereka pun kembali ke kelas dan sekarang Bintang pun mempunyai seorang teman. Yaitu Fitri. Mereka pun berteman dengan baik.
Jam pelajaran pertama dimulai, Pak Tejo adalah seorang guru killer, namun baik hatinya.
Pelajaran matematika, memang pelajaran yang membosankan. Namun tidak untuk bintang, karena ia memang hobi berhitung sejak dulu. Ia terus memperhatikan Pak Tejo yang sedang mengajar.
Pak Tejo memberikan soal di papan tulis dan bertanya “siapa yang bisa mengerjakan soal ini!!”
Bintang pun mengangkat tangannya, namun ia kalah cepat dari Riska.
Riska pun maju ke depan, ia mengerjakan soal dengan cepat, secepat kilat tanpa menghapusnya.
“Kurasa, ia sudah terlatih” bisik Bintang kepada Fitri.
“Riska, memang orang yang cerdas” jawab Fitri
“Bagaimana kamu tau?” Tanya Bintang lagi. karena ia bingung sepertinya Fitri dan Riska sudah lama kenal.
“Aku dan Riska memang satu sekolah sejak SMP, dan Riska memang terkenal pandai, tapi sifatnya yang cendrung angkuh, membuatku tak ingin berteman dengannya lagi”. Jawab Fitri menjelaskan panjang lebar.
Pelajaran matematika telah usai, Pak Tejo tak lupa memberikan PR.
“Bintang, ngerjain PR bareng yukk!!” ajak Fitri
“ayo, boleh-boleh, ngerjain dimana?”. Tanya Bintang
“Di sekolah aja, abis pulang sekolah…”
“Oke” Bintang meng-iyakan ajakan Fitri
Eh, teman-teman nanti siapa yang mau ikutan belajar bareng? Teriak Fitri.
Semuanya mengacungkan tangan kecuali Riska. Fitri mencoba mengajak Riska agar ia ikut
“Riska, mau ikutan gak?”
“kayanya engga deh, aku mau ngerjain PR di tempat les ku aja!!” jawab Riska tanpa mengubah pikirannya.
Sepulang sekolah, mereka dengan antusias mengerjakan PR bersama, semakin lama, mereka semakin akrab, semenjak mereka sering ngumpul bersama. Bahkan mereka selalu melakukan kegiatan rutin belajar kelompok bersama sepulang sekolah.
“Ulala, pelajaran Pak Tejo lagi!!” ucap Fitri menggerutu.
“tenang pit, kita kan udah belajar bareng!”
“tapi, aku kan gak sepintar kamu Tang!” Fitri memuji Bintang.
“Ststtstt, sudah-sudah Pak Tejo sudah datang”
Anak–anak, apa kalian sudah mengerjakan PR semuanya!! Tanya Pak Tejo dengan garang.
“Sudah Pak!” Jawab siswa dan siswi dengan kompak.
Bagus-bagus! Ucap Pak Tejo
Riska, kerjakan nomor 1! Perintah Pak Tejo.
Riska pun maju ke depan, dan seperti biasanya ia selalu mengerjakan soal dengan mudahnya.
Pak Tejo membuka buku absen, dan menunjuk 1 orang untuk maju selanjutnya.
Seluruh siswa dan siswi merasa deg-degan, karena takut menjadi sasaran selanjutnya yang akan dipanggil oleh Pak Tejo.
“Fitri Indah Sari” kerjakan nomor selanjutnya
Fitri mulai mengerjakan soal itu dengan gemetaran, Fitri berkali-kali menghapusnya, tapi ia berhasil mengerjakanya walaupun ia mengerjakanya tak secepat Riska.
“Wah, hebat kamu Fitri, kamu yang biasanya gak bisa ngerjain, sekarang pandai sekali!” Kata Pak Tejo, memuji Fitri ketika sudah selesai mengerjakan soal.
“Hehe, iya dong Pak!!” jawab Fitri ia pun kembali ke tempat duduknya.
“Anak-anak, Bapak bangga dengan kelas ini, karena kelas ini menunjukan kemajuan yang sangat pesat dalam belajar”.
Seluruh siswa dan siswi bertepuk tangan, karena merasa gembira.
“Iya dong Pak, kita kan mengadakan kegiatan belajar kelompok, dengan rutin!” Sahut Fitri
“Bagus-bagus! Belajar kelompok memang salah satu cara yang paling ampuh dalam belajar. Selain soal menjadi mudah, kita juga mempunyai banyak teman, daripada kita harus mengerjakanya sendiri!” Respon Pak Tejo.
Saat itu, tiba-tiba ibu kepala sekolah masuk ke kelas X-A. Seluruh siswa dan siswi merasa bingung, karena tidak biasanya ibu kepala sekolah datang ke kelasnya. Seluruhnya merasa deg-degan dibuatnya, karena mereka tidak tau apa maksud kedatangan Bu Kepsek.
“Anak-anak ibu akan membawa kabar gembira” ucap Bu Kepsek
“Kabar gembira apa bu?” Tanya seluruh siswa dan siswi serempak.
“Anak-anak, sekolah kita akan mengikuti sebuah olimpiade matematika, dan Ibu akan memilih perwakilanya dari kelas ini, dan Ibu akan memilih…”
Saat seluruhya serius menunggu siapa nama yang akan di ucapkan oleh Bu Kepsek, tiba-tiba bel istirahat berbunyi “kring, kring, kring”
“Yahh,” ucap seluruh siswa dan siswi sambil tertawa.
“Siapa Bu orangnya, lanjutkan Bu,” teriak seluruhnya.
“Riska dan Bintang! Kalian yang akan menjadi perwakilan sekolah.” Ucap Bu Kepsek dan Pak Tejo.
“Wahh, selamat ya Tang!” Fitri memberi selamat kepada Bintang.
“Iya, maksih pit..”
Bintang merasa senang karena ia terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk lomba olimpiade matematika. karena ini merupakan pengalaman pertamanya di SMA.
Saat itu ia meluapkan kegembiraanya lewat buku kecilnya yang selalu ia bawa saat sekolah, buku itu berisi curhatan-curhatan Bintang.
Dear Diary
Hari ini, aku senang sekali, karena aku terpilih menjadi peserta lomba olimpiade matematika, aku janji aku ga akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku berharap aku bisa mewujudkan keinginanku!!
Pasti bisa Tang? semangat!! good luck..
Setelah ia merasa lega telah menulisnya, ia menutup buku kecilnya dan menyimpannya di tas.
“Tang, ke kantin yukk!” Fitri datang menghampiri Bintang.
“Ayok, pit!” Sambil menarik tangannya Fitri.
“Makan bakso yuk tang!” Ajak Fitri ketika sampai di kantin.
“Emm, enggak deh aku lagi ngumpulin uang buat ditabung nihh!” Tolak Bintang
“Eh, tenang aja aku yang bayarin kok!” Tawar Fitri
Belum sempat Bintang menjawabnya, Fitri sudah memesan baksonya.
“Hehe, makasih Pit..”
“Iya, sama-sama tang, kamu kan udah ngajarin aku matematika.”
“Tang, besok semangat ya, buat lombanya, jangan mau kalah sama Riska!” Kata Fitri sambil mengacungkan jempolnya.
“Tapi aku gak yakin Pit,” jawab Bintang pesimis.
“Duh, kenapa harus pesimis sih Tang”
Dia itu pintar banget, kan kamu sendiri yang pernah bilang!
“iya sih, dia itu emang orang terpintar di sekolah ini.. tapi gak ada yang gak mungkin Tang, di dunia ini”
“Butuh usaha yang keras Tang, untuk hasil yang maksimal” seketika Fitri berubah menjadi sang motivator.
“Dan ini kesempatan kamu Tang, untuk ngebuktiin ke dia, kalau gak hanya dia yang paling pintar, karena di atas langit, masih ada langit..” ucap Fitri menjadi motivator tiada henti-hentinya.
“Udah-udah ngobrolnya nanti lagi, sekarang makan aja dulu” jawab Bintang dengan santai.
Setelah mereka selesai makan, mereka kembali ke kelas, dan ketika sampai di kelas
“Tang, semangat ya, Buat lombanya!” Terdengar suara teman-teman sekelasnya menyemangatinya
“Iya, makasih kawan” jawab bintang
H -1 nih, pikiran Bintang mulai was-was. Takut, senang, itulah yang saat ini ia rasakan
Mengapa tidak? Sebab ia tidak menyangka akan terpilih sebagai peserta lomba olimpiade matematika, dan ia takut dengan pesaing-pesaing nya yang jauh lebih pintar darinya.
Optimis Tang, optimis! Bintang berusaha meyakini dirinya sendiri.
Ia mengeluarkan buku kecilnya lagi dan ia menulis isi hatinya di buku itu
Dear Diary
H -1 lomba, gak ada yang gak mungkin di dunia ini. Hmm, bener juga kata Fitri..
Pengen banget buat ortu bangga
Hari ini adalah hari saatnya Bintang berlomba, Bintang pun percaya diri setelah mendapatkan motivasi dari sahabatnya.. kini impianya bukan hanya 1. tapi, selain ia ingin membahagiakan orangtuanya, bintang juga ingin membuktikan kalau dia bisa, ia tidak ingin dipandang sebelah mata oleh Riska. Ia ingin menunjukan kebolehanya, tanpa tinggi hati. Ia ingin tetap menjadi bintang yang rendah hati.
Teng, waktu dimulainya mengerjakan lomba. Berbagai macam peserta, dari sekolah yang ada di seluruh indonesia. karena ini merupakan olimpiade Nasional. Beratus-ratusan peserta yang ikut.
Bintang mengerjakannya dengan tenang, ia tidak terpengaruh dengan peserta-peserta yang telah selesai.. ia tetap percaya kepada kemampuanya karena ia telah berusaha dan berdoa.
Sedangkan Riska ia mengerjakannya dengan terlalu percaya diri dengan kemampuannya yang ia miliki. Ia sangat menyombongkan diri, dan ia sangat yakin, kalau dialah yang akan menang.
Lomba telah selesai, kini seluruh peserta hanya tinggal menunggu pengumuman siapa yang akan menjadi sang juara.
2 jam telah berlalu, kini saatnya yang paling mendebarkan, dan akhirnya
Juara 1 jatuh kepada “Bintang Nesya Permata Putri”..
Bintang pun menangis karena terharu, ia tidak menyangka, bahwa ialah pemenangnya.
Sedangkan Riska hanya meraih juara harapan 1, orang yang biasanya terpintar di sekolahnya.
Seluruh teman-temanya memberi ucapan selamat kepada Bintang. Semuanya pun ikut menangis karena bahagia.
Riska yang pada saat itu kalah dari Bintang, ia pun kini menyadari karena ia terlalu menyombongkan diri. Dan kini ia pun mengakui bahwa Bintanglah “Sang Juaranya”.
Dan Riska pun memberanikan dirinya untuk minta maaf kepada Bintang. karena ia pernah mengejeknya. Bintang pun memaafkannya.
Kini impian Bintang telah terwujud, tak hanya menjadi seorang bintang, tapi juga menjadi seseorang yang rendah hati. karena keberhasilan yang telah ia peroleh bukan saja karena kemampuanya, tapi karena motivasi orang-orang sekitarnya lah yang membuat ia menjadi berhasil.
Cerpen Karangan: Puji Lestari
Cerpen Cinta :)
Dan, Kita :)
Cerpen karangan : Sahila Daniara
“Celia, sudah mengemasi barang-barang sayang? Jangan sampai ada yang tertinggal.” Mamanya menghampiri Celia ke kamarnya. Celia sedang asyik melihat-lihat fotonya bersama Farez.
“Eh, sudah kok ma. Besok semuanya sudah beres.” Celia mengacungkan jempolnya. Mamanya tersenyum dan meninggalkan Celia.
Celia bingung. Ini sudah sebulan sejak Joya menceritakan tentang Farez padanya. Celia terlalu pengecut untuk membicarakan perihal hubungannya dengan Farez. Dia takut melukai hati Joya, takut membuat Joya kecewa, takut Joya membencinya dan menjauhinya. Sehinggga Celia memilih untuk tetap diam dan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. Dia juga tidak membicarakan apapun pada Farez, hubungan mereka berjalan seperti biasanya. Tapi untuk saat ini Celia benar-benar bingung. Lusa dia akan meninggalkan Ibu Kota Sumatera Barat ini dan pindah ke Kota Bandung bersama mama dan papanya. Papanya mempunyai kontrak kerja baru di sana, dan mau tak mau Celia dan mamanya juga ikut diboyong. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
“Sore Celia. Kamu mau kemana? Sepertinya barang-barangmu dibungkus semua?” Joya tiba-tiba saja muncul di kamarnya. Celia sedikit kaget karena Joya membuat lamunannya buyar.
“Eh.. Joya. Lusa aku akan pindah..”
“Pin..” Joya tidak menyelesaikan kalimatnya dan meraih foto yang berserakkan di atas tempat tidur Celia. Celia melupakan foto itu ketika Joya datang. Celia hanya bisa mematung ketika Joya menyaksikan foto itu dengan tatapan kecewa.
“Aku sudah bilang padamu kalau aku menyukainya. Dan kamu tega merebutnya diam-diam di belakangku.” Joya menumpahkan air matanya. Raut mukanya terlihat marah.
“Aku tidak merebutnya diam-diam darimu. Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya.” Celia berusaha menenangkan Joya.
“Aku tidak butuh penjelasan. Aku kecewa padamu. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Sepertinya aku menceritakan semua perasaanku selama ini pada orang yang salah.” kalimat terakhir Joya sebelum melangkah meninggalkan Celia sendirian di kamarnya.
“Baik. Aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi kalau itu membuatmu senang Joy. Lusa aku akan pindah dan kita tidak akan bertemu lagi. Dan kamu bisa bersama dengan Farez.” ucap Celia lirih. Setelah itu dia menangis semalaman sampai matanya bengkak.
—
“Kenapa tiba-tiba mengajak bertemu?” tanya Farez ketika dia menghampiri Celia yang telah lebih dulu menunggu di taman bermain.
“Tidak ada. Hanya ingin melihatmu.” Celia tersenyum.
“Benarkah? Hanya itu?” Farez menyipitkan mata curiga.
“Hmm..” Celia mengangguk. Pertemuan untuk perpisahan kita, sambung Celia dalam hati.
Selama dua jam mereka menghabiskan waktu bersama. Main ayunan, perosotan, mereka juga main kejar-kejaran sampai mereka terlihat benar-benar lelah.
“Ayo pulang. Sudah pukul tujuh malam. Nanti Mamamu mengira aku menculikmu.” canda Farez.
“Aku sudah minta izin kok. Baiklah. Selamat malam Faz.” Celia mencium pipi kanan Farez. Mungkin, itu adalah ucapan selamat tinggal darinya untuk Farez. Setelah pindah dia ingin melupakan Farez. Itu akan lebih adil bagi Joya.
“Selamat malam. Sampai jumpa besok.” Farez kemudian melangkah meninggalkan Celia ke arah yang berlawanan. Celia pun berusaha menyeret kakinya yang membeku di tempat dengan mata yang terus menatap punggung Farez. Selama perjalanan pulang, Celia melepaskan tangisannya.
“Maaf Farez. Sampai jumpa besok takkan bermakna. Besok kamu tidak akan menemukanku lagi. Mungkin kita bukanlah Romeo dan Juliet masa depan.”
—
Ketika kabar tentang kepindahan Celia sampai ke telinga Farez. Dia berlari ke kelas Celia, gadis itu memang tak ada. Tanpa memikirkan apapun dia berlari ke rumah Celia, ke taman bermain, ke café tempat mereka biasa meminum Cappucino bersama. Tak ada. Celia memang sudah pergi dan tidak mengatakan apapun padanya. Sejak hari itulah, Joya muncul di hadapan Farez dan secara perlahan menyembuhkan luka di hatinya. Namun, sesakit apapun, dia tetap tak bisa menghentikan rasa cintanya pada Celia. Pesona gadis itu telah terbingkai permanen di dinding hatinya. Rasa cinta itu akan tetap sama. Dulu, kini dan nanti.
—
“Apakah sekarang kamu sudah punya kekasih lagi?” tanya Farez hati-hati.
Celia menjawabnya dengan sebuah anggukan.
“Oh.. Selamat kalau begitu. Siapa namanya?” tanya Farez lagi.
“Ken.” jawab Celia singkat.
“Mau kah kamu menceritakan padaku tentang Ken?”
“Ken. Dia menjadi pacarku empat tahun yang lalu. Kami satu kampus, tapi dulu dia SMA di sini. Dia sangat baik dan perhatian padaku.” Celia berbohong.
“Kamu mencintainya?”
“Untuk apa kamu menanyakan itu? Tentu saja aku mencintainya.” Celia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
“Kenapa dulu meninggalkanku begitu saja? Aku hanya ingin tau jawabanmu. Semudah itu kamu melupakanku dan beralih mencintai Ken?”
“Aku tidak ingin menangis ketika melihatmu melepas kepergianku. Lebih baik aku pergi diam-diam dan membuatmu membenciku. Aku pikir, kalau aku bersama Ken aku bisa melupakanmu.” jelas Celia dengan suara pelan.
“Kenapa harus membuatku membencimu dan kenapa kamu harus melupakanku? Celia tolong bicara yang jelas.” Farez terus mendesak Celia.
“Tolong jangan paksa aku untuk menjawab semuanya. Tolong Farez jangan begini.” Celia berteriak.
“Aku hanya ingin tau alasanmu. Celia, aku yakin kamu belum sepenuhnya melupakanku. Aku tau kamu, dan aku tau sekarang kamu sedang berbohong padaku. Bicara Celia, biar semuanya jelas.” Farez menatap Celia yang sedang berusaha menyembunyikan kebohongannya.
“Dari dulu aku selalu ingin bertanya pada diriku sendiri. Kenapa? Kenapa aku meninggalkanmu? Kenapa aku memutuskan untuk menjauh dan pergi? Sampai saat ini, ketika dia sudah mengisi waktu di hidupku, Aku tetap tak bisa, tak bisa berdusta, bahwa Aku selalu dan masih mencintaimu, Farez.” ucap Celia lirih tanpa keraguan sedikitpun. Farez hanya mampu menatap Celia tanpa bicara. Dia menunggu kalimat selanjutnya yang yang diuraikan Celia.
“Aku melakukan itu agar kamu membenciku. Agar semuanya adil bagiku dan Joya. Waktu itu aku hanya memikirkan bagaimana supaya Joya tidak membenciku karena dia merasa aku merebutmu darinya. Dan aku lebih memilih untuk kehilanganmu daripada kehilangan Joya. Tapi pada akhirnya aku kehilangan keduanya.” Celia menyelesaikan kalimatnya dengan hembusan napas panjang.
“Lalu sekarang?”
“Sekarang? Sudahlah Farez, itu sudah lama sekali. Sekarang semuanya sudah berbeda. Kita sudah punya dua orang yang sama-sama menyayangi kita. Jalani saja. Masa lalu yang membawa kita pada jalan ini. Aku masih menyayangimu Faz, tapi aku tak mau egois. Masih ada Ken di sampingku, begitu juga denganmu, ada Joya.” Entah apa yang sedang dipikirkannya sampai Celia mengucapkan kalimat berjiwa besar ini. Padahal, selama perpisahannya dengan Farez dia selalu berharap agar suatu hari mereka bisa bertemu lagi.
Mereka sama-sama terdiam kembali. Saat ini Celia benar-benar tidak tau apa yang akan dia lakukan. Dia bertemu lagi dengan Farez, cintanya yang belum usai lima tahun lalu. Namun Celia juga sudah bersama Ken sejak empat tahun yang lalu. Dan Farez pun sudah ada Joya dalam hidupnya. Dia tidak ingin menyakiti hati Joya lagi walau dia sendiri merasa sakit.
Kemudian Celia dan Farez mengakhiri pertemuan mereka. Perpisahan seperti lima tahun yang lalu.
“Selamat sore Farez.”
“Selamat sore Celia. Sampai jumpa.”
Kemudian mereka berjalan ke arah yang berlawanan. Celia berdiri mematung menatap punggung Farez. Dia tidak lagi berusaha menyeret langkahnya untuk pergi. Dia akan memperhatikan langkah Farez sampai pria itu menghilang di kelokan ujung jalan. Tapi Farez kemudian membalikan badan dan berlari kembali ke arah Celia. Tanpa sadar Farez memeluknya. Celia hanya mampu mengeluarkan air mata. Dia tidak tau apa yang harus dilakukannya. Dia mencintai Farez, tapi tidak akan melukai Joya lagi. Dia akan membiarkan Farez bahagia bersama Joya, walau dia sendiri tidak yakin dia bahagia bersama Ken.
“Tolong, jangan pergi lagi seperti waktu itu. Jangan biarkan aku menunggumu lagi. Lima tahun itu sudah terlalu lama.” bisik Farez di telinga Celia.
Farez melepaskan pelukannya dan kembali berjalan menjauhi Celia. Dia melambaikan tangannya dengan senyuman. Akhirnya Celia membalas lambaian itu dengan senyumnya yang paling manis. Apa lagi yang bisa dia lakukan ketika dia telah berusaha melupakan sosok itu dan tidak berhasil sama sekali? Celia terus menatap Farez yang saat ini terlihat benar-benar tampan dan keren dalam balutan kaus putih dan jacket birunya yang dipadu dengan jeans bewarna senada.
“Joya, aku harus bagaimana?” Celia berharap Joya mendengarnya.
Mereka tidak menyadari kalau dari tadi Joya bersama mereka. Joya menyaksikan semuanya, mendengar percakapan mereka. Mata Joya terlihat merah. Entah itu sedih atau marah. Tanpa pikir panjang Joya berlari menuju rumah Celia yang tidak jauh dari taman bermain itu. Dia harus sampai sebelum Celia.
“Selamat sore tante?” Joya menyapa mama Celia dengan napas menderu.
“Joya? Selamat sore. Apa kabar sayang? Kamu semakin cantik.” mama Celia menyambut Joya dengan ramah.
“Iya tante. Baik tante. Terima kasih. Apakah Celia ada di rumah?” Celia pura-pura bertanya.
“Dia tadi keluar. Kamu bisa menunggu di kamarnya. Tante akan menghubunginya.”
“Tidak usah dihubungi tante. Joya akan menunggu.” Joya kemudian berjalan menuju kamar Celia.
Joya mengamati kamar Celia yang saat ini dimasukinya. Tidak ada yang berubah. Tentu saja, sudah lima tahun Celia tidak menempati kamar ini. Semuanya masih sama, di dinding atas tempat tidurnya masih terdapat tempelan kertas yang mereka tulis bersama-sama, entah itu harapan atau cita-cita. Di meja kecil yang berada di sebelah tidur Joya masih terpajang foto mereka berdua. Namun, di sebelah foto itu juga terbingkai sebuah foto dimana Farez dan Celia saling tertawa lepas.
Joya melihat sebuah kotak di bawah tempat tidur Celia dan membuka kotak itu. Dia tau itu salah dan tidak sopan. Tapi dia hanya ingin tau seperti apa hubungan Celia dan Farez di masa lalu yang dengan tega dirusak oleh keegoisannya. Kotak itu berisi foto-foto Celia dan Farez yang dulu membuat Joya marah, sebuah buku tentang Romeo and Juliet, juga ada sebuah buku harian mungil. Dengan ragu Joya membuka buku harian itu. Dia membaca semuanya dan dia menyadari kesalahan yang telah dia buat. Celia mengenal Farez sejak SMP dan mereka berpacaran jauh sebelum Joya menceritakan tentang Farez padanya.
Maret 2005,
Aku jadian dengan Farez. ^_^
Tiba-tiba Celia muncul dan Joya menjatuhkan buku harian itu.
“Joya?”
Joya berlari menghampiri Celia dan memeluknya dengan tangisan terisak-isak.
“Maaf Celia. Maaf aku terlalu egois waktu itu. Aku yang merebut Farez darimu, aku yang membuat kalian berpisah. Aku..”
“Sudahlah Joy, aku sudah memaafkanmu. Itu sudah terlalu lama. Dan sekarang aku sudah punya kekasih baru. Bahagialah bersama Farez.” Celia membelai rambut sahabatnya itu.
“Tidak. Kamu yang harus bahagia dengan Farez..”
Celia tak menjawab. Dia tetap memeluk sahabat yang lima tahun tak pernah dijumpainya itu. Kemudian mereka bercerita tentang banyak hal dan hubungan mereka kembali seperti waktu itu. Tak ada dendam dan kesalahpahaman lagi di antara mereka berdua.
—
“Maafkan Aku Celia, selama beberapa hari ini aku sibuk dengan urusanku dan sedikit mengabaikanmu.” Ken tersenyum dengan sangat manis pada Celia yang saat ini duduk berhadapan dengannya. Celia hanya tersenyum tipis dan tidak membalas apapun.
“Cel, ada apa denganmu?” Ken menyentuh tangan Celia. Celia menghembuskan napas panjang.
“Tidak ada.” jawab Celia singkat.
“Oh iya, aku hampir lupa memberi tahumu. Minggu depan aku akan liburan ke Venesia bersama Danny dan yang lain. Jadi selama beberapa hari ini aku akan benar-benar sibuk. Kuharap kamu memakluminya.” Ken terus bicara tanpa mau tau apa yang sedang berkelebat di pikiran Celia.
“Tidak Ken. Ketika kamu pulang dari liburanmu, aku bukan lagi Celia-mu. Aku bukan lagi kekasihmu.” Celia menggeleng dengan cepat. Butuh banyak keberanian untuk mengucapkan kalimat itu. Dia tidak ingin menyakiti siapapun lagi. Cukup Joya saja yang merasa tersakiti olehnya.
“Apa maksudmu?” Ken menaikkan sebelah alisnya.
“Ayolah Ken, saat ini aku masih kekasihmu. Dan kamu sendiri tidak bisa memahamiku. Kamu selalu sibuk dengan teman-temanmu dan terus mengabaikanku setiap saat. Aku tidak bisa lagi menyandang status sebagai pacarmu.” napas Celia terdengar tidak teratur.
“Jadi maksudmu kita putus? Begitu?”
Celia hanya mengangguk kemudian berdiri dari duduknya. Ken dengan cepat menahannya.
“Kita belum selesai bicara. Jangan meninggalkanku begitu saja.” Ken bicara pelan. Dia menyadari kesalahannya dan tidak ingin gadis di hadapannya berlalu begitu saja.
“Maaf Ken, ada seseorang yang saat ini sedang menungguku.” Celia menepis tangan Ken yang berusaha menahan langkahnya.
“Siapa? Kekasih barumu?” selidik Ken.
Celia menggeleng dengan cepat kemudian berjalan tergesa meninggalkan Ken yang diliputi rasa bersalah dan penyesalan, karena tidak menjaga orang yang dia sayangi dengan baik.
—
“Aku minta maaf. Waktu itu aku tak seharusnya begitu. Aku seharusnya tak egois dengan perasaanku saat itu. Maaf Farez, maaf.” Joya berkata dengan nada bergetar. Air mata menggantung di ujung-ujung kelopak matanya.
“Sudahlah Joya. Yang penting sekarang hubunganmu dengan Celia sudah membaik. Begitupun aku dengannya.” Farez tersenyum.
“Ya, mulai sekarang aku berjanji tidak akan menjadi pengganggu dalam hubungan kalian. Mulai sekarang aku temanmu, seperti aku dan Celia. Baiklah aku pergi sekarang. Bersenang-senanglah dengan Celia. Kurasa dia sedang dalam perjalanan ke sini.” Joya melirik jam di pergelangan tangannya kemudian berjalan menjauhi Farez dengan lambaian tangan.
Setelah Joya berlalu, Farez hanya diam dan sesekali menggerakkan ayunannya dengan pelan. Diamatinya sekeliling. Taman bermain yang menyimpan banyak kenangannya dengan Celia di masa lalu.
“Hai Faz.” Celia mengagetkan Farez yang mengingat kenangan mereka.
“Oh hai. Kukira kamu tidak akan datang.”
“Aku pasti datang.”
“Jadi dia yang mengisi harimu ketika aku meninggalkanmu? Maaf aku mengikutimu.” Ken tiba-tiba muncul di tengah percakapan Celia dan Farez.
“Dia mengisi hariku jauh sebelum kamu mengenalku.” jawab Celia.
“Baiklah. Aku minta maaf telah membuatmu kecewa selama ini. Mungkin, ini semua pelajaran untukku. Di masa depan, aku tidak akan melakukan hal yang sama pada gadis-ku. Seperti apa yang aku lakukan padamu. Bersenang-senanglah.” Ken tersenyum kemudian beralih menatap Farez dan kembali tersenyum. Farez merasa pernah bertemu dengan Ken, tapi ingatan itu samar-samar.
“Maaf Ken. Dan terima kasih atas waktu empat tahun ini.”
“Itu tidak berarti apa-apa Celia. Aku hanya membuatmu kecewa. Sudahlah. Aku pergi sekarang. Sampai jumpa Cel. Dan..” Ken menunjuk Farez dengan sopan.
“Farez..” balas Farez seolah sudah mengerti dengan isyarat tangan Ken.
“Ah ya Farez, jaga Celia dengan baik. Baiklah, aku pergi.” Ken mengangkat tangan kanannya.
“Tunggu Ken. Dulu aku pernah bertanya padamu kenapa aku harus minta maaf. Sekarang aku tau, aku minta karena aku telah menabrakmu waktu itu. Dan maaf lagi, karena aku merebut gadis-mu.” Farez sedikit menunduk.
“Ya.. Hei, jadi waktu itu..?” Ken kemudian tertawa dan mengedipkan matanya ke arah Farez. Celia hanya mengerinyitkan dahi pertanda bingung. Tak lama Ken menjauh dan menghilang dari pandangan mereka.
Farez tersenyum kemudian meraih tangan Celia. Di genggamnya tangan itu dengan erat. Kemudian mereka berjalan bersama. Melanjutkan kisah masa lalu yang belum usai. Mereka bertemu bukan untuk mengucapkan kata selamat tinggal satu sama lain, tetapi mereka bertemu untuk mengucapkan kata selamat datang kembali. Dan benar, mereka menjadi Romeo dan Juliet masa depan dengan akhir kisah yang bahagia. Takdir pertemuan itu indah bukan?
Cerpen Karangan: Sahila Daniara
Cerpen karangan : Sahila Daniara
“Celia, sudah mengemasi barang-barang sayang? Jangan sampai ada yang tertinggal.” Mamanya menghampiri Celia ke kamarnya. Celia sedang asyik melihat-lihat fotonya bersama Farez.
“Eh, sudah kok ma. Besok semuanya sudah beres.” Celia mengacungkan jempolnya. Mamanya tersenyum dan meninggalkan Celia.
Celia bingung. Ini sudah sebulan sejak Joya menceritakan tentang Farez padanya. Celia terlalu pengecut untuk membicarakan perihal hubungannya dengan Farez. Dia takut melukai hati Joya, takut membuat Joya kecewa, takut Joya membencinya dan menjauhinya. Sehinggga Celia memilih untuk tetap diam dan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. Dia juga tidak membicarakan apapun pada Farez, hubungan mereka berjalan seperti biasanya. Tapi untuk saat ini Celia benar-benar bingung. Lusa dia akan meninggalkan Ibu Kota Sumatera Barat ini dan pindah ke Kota Bandung bersama mama dan papanya. Papanya mempunyai kontrak kerja baru di sana, dan mau tak mau Celia dan mamanya juga ikut diboyong. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
“Sore Celia. Kamu mau kemana? Sepertinya barang-barangmu dibungkus semua?” Joya tiba-tiba saja muncul di kamarnya. Celia sedikit kaget karena Joya membuat lamunannya buyar.
“Eh.. Joya. Lusa aku akan pindah..”
“Pin..” Joya tidak menyelesaikan kalimatnya dan meraih foto yang berserakkan di atas tempat tidur Celia. Celia melupakan foto itu ketika Joya datang. Celia hanya bisa mematung ketika Joya menyaksikan foto itu dengan tatapan kecewa.
“Aku sudah bilang padamu kalau aku menyukainya. Dan kamu tega merebutnya diam-diam di belakangku.” Joya menumpahkan air matanya. Raut mukanya terlihat marah.
“Aku tidak merebutnya diam-diam darimu. Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya.” Celia berusaha menenangkan Joya.
“Aku tidak butuh penjelasan. Aku kecewa padamu. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Sepertinya aku menceritakan semua perasaanku selama ini pada orang yang salah.” kalimat terakhir Joya sebelum melangkah meninggalkan Celia sendirian di kamarnya.
“Baik. Aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi kalau itu membuatmu senang Joy. Lusa aku akan pindah dan kita tidak akan bertemu lagi. Dan kamu bisa bersama dengan Farez.” ucap Celia lirih. Setelah itu dia menangis semalaman sampai matanya bengkak.
—
“Kenapa tiba-tiba mengajak bertemu?” tanya Farez ketika dia menghampiri Celia yang telah lebih dulu menunggu di taman bermain.
“Tidak ada. Hanya ingin melihatmu.” Celia tersenyum.
“Benarkah? Hanya itu?” Farez menyipitkan mata curiga.
“Hmm..” Celia mengangguk. Pertemuan untuk perpisahan kita, sambung Celia dalam hati.
Selama dua jam mereka menghabiskan waktu bersama. Main ayunan, perosotan, mereka juga main kejar-kejaran sampai mereka terlihat benar-benar lelah.
“Ayo pulang. Sudah pukul tujuh malam. Nanti Mamamu mengira aku menculikmu.” canda Farez.
“Aku sudah minta izin kok. Baiklah. Selamat malam Faz.” Celia mencium pipi kanan Farez. Mungkin, itu adalah ucapan selamat tinggal darinya untuk Farez. Setelah pindah dia ingin melupakan Farez. Itu akan lebih adil bagi Joya.
“Selamat malam. Sampai jumpa besok.” Farez kemudian melangkah meninggalkan Celia ke arah yang berlawanan. Celia pun berusaha menyeret kakinya yang membeku di tempat dengan mata yang terus menatap punggung Farez. Selama perjalanan pulang, Celia melepaskan tangisannya.
“Maaf Farez. Sampai jumpa besok takkan bermakna. Besok kamu tidak akan menemukanku lagi. Mungkin kita bukanlah Romeo dan Juliet masa depan.”
—
Ketika kabar tentang kepindahan Celia sampai ke telinga Farez. Dia berlari ke kelas Celia, gadis itu memang tak ada. Tanpa memikirkan apapun dia berlari ke rumah Celia, ke taman bermain, ke café tempat mereka biasa meminum Cappucino bersama. Tak ada. Celia memang sudah pergi dan tidak mengatakan apapun padanya. Sejak hari itulah, Joya muncul di hadapan Farez dan secara perlahan menyembuhkan luka di hatinya. Namun, sesakit apapun, dia tetap tak bisa menghentikan rasa cintanya pada Celia. Pesona gadis itu telah terbingkai permanen di dinding hatinya. Rasa cinta itu akan tetap sama. Dulu, kini dan nanti.
—
“Apakah sekarang kamu sudah punya kekasih lagi?” tanya Farez hati-hati.
Celia menjawabnya dengan sebuah anggukan.
“Oh.. Selamat kalau begitu. Siapa namanya?” tanya Farez lagi.
“Ken.” jawab Celia singkat.
“Mau kah kamu menceritakan padaku tentang Ken?”
“Ken. Dia menjadi pacarku empat tahun yang lalu. Kami satu kampus, tapi dulu dia SMA di sini. Dia sangat baik dan perhatian padaku.” Celia berbohong.
“Kamu mencintainya?”
“Untuk apa kamu menanyakan itu? Tentu saja aku mencintainya.” Celia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
“Kenapa dulu meninggalkanku begitu saja? Aku hanya ingin tau jawabanmu. Semudah itu kamu melupakanku dan beralih mencintai Ken?”
“Aku tidak ingin menangis ketika melihatmu melepas kepergianku. Lebih baik aku pergi diam-diam dan membuatmu membenciku. Aku pikir, kalau aku bersama Ken aku bisa melupakanmu.” jelas Celia dengan suara pelan.
“Kenapa harus membuatku membencimu dan kenapa kamu harus melupakanku? Celia tolong bicara yang jelas.” Farez terus mendesak Celia.
“Tolong jangan paksa aku untuk menjawab semuanya. Tolong Farez jangan begini.” Celia berteriak.
“Aku hanya ingin tau alasanmu. Celia, aku yakin kamu belum sepenuhnya melupakanku. Aku tau kamu, dan aku tau sekarang kamu sedang berbohong padaku. Bicara Celia, biar semuanya jelas.” Farez menatap Celia yang sedang berusaha menyembunyikan kebohongannya.
“Dari dulu aku selalu ingin bertanya pada diriku sendiri. Kenapa? Kenapa aku meninggalkanmu? Kenapa aku memutuskan untuk menjauh dan pergi? Sampai saat ini, ketika dia sudah mengisi waktu di hidupku, Aku tetap tak bisa, tak bisa berdusta, bahwa Aku selalu dan masih mencintaimu, Farez.” ucap Celia lirih tanpa keraguan sedikitpun. Farez hanya mampu menatap Celia tanpa bicara. Dia menunggu kalimat selanjutnya yang yang diuraikan Celia.
“Aku melakukan itu agar kamu membenciku. Agar semuanya adil bagiku dan Joya. Waktu itu aku hanya memikirkan bagaimana supaya Joya tidak membenciku karena dia merasa aku merebutmu darinya. Dan aku lebih memilih untuk kehilanganmu daripada kehilangan Joya. Tapi pada akhirnya aku kehilangan keduanya.” Celia menyelesaikan kalimatnya dengan hembusan napas panjang.
“Lalu sekarang?”
“Sekarang? Sudahlah Farez, itu sudah lama sekali. Sekarang semuanya sudah berbeda. Kita sudah punya dua orang yang sama-sama menyayangi kita. Jalani saja. Masa lalu yang membawa kita pada jalan ini. Aku masih menyayangimu Faz, tapi aku tak mau egois. Masih ada Ken di sampingku, begitu juga denganmu, ada Joya.” Entah apa yang sedang dipikirkannya sampai Celia mengucapkan kalimat berjiwa besar ini. Padahal, selama perpisahannya dengan Farez dia selalu berharap agar suatu hari mereka bisa bertemu lagi.
Mereka sama-sama terdiam kembali. Saat ini Celia benar-benar tidak tau apa yang akan dia lakukan. Dia bertemu lagi dengan Farez, cintanya yang belum usai lima tahun lalu. Namun Celia juga sudah bersama Ken sejak empat tahun yang lalu. Dan Farez pun sudah ada Joya dalam hidupnya. Dia tidak ingin menyakiti hati Joya lagi walau dia sendiri merasa sakit.
Kemudian Celia dan Farez mengakhiri pertemuan mereka. Perpisahan seperti lima tahun yang lalu.
“Selamat sore Farez.”
“Selamat sore Celia. Sampai jumpa.”
Kemudian mereka berjalan ke arah yang berlawanan. Celia berdiri mematung menatap punggung Farez. Dia tidak lagi berusaha menyeret langkahnya untuk pergi. Dia akan memperhatikan langkah Farez sampai pria itu menghilang di kelokan ujung jalan. Tapi Farez kemudian membalikan badan dan berlari kembali ke arah Celia. Tanpa sadar Farez memeluknya. Celia hanya mampu mengeluarkan air mata. Dia tidak tau apa yang harus dilakukannya. Dia mencintai Farez, tapi tidak akan melukai Joya lagi. Dia akan membiarkan Farez bahagia bersama Joya, walau dia sendiri tidak yakin dia bahagia bersama Ken.
“Tolong, jangan pergi lagi seperti waktu itu. Jangan biarkan aku menunggumu lagi. Lima tahun itu sudah terlalu lama.” bisik Farez di telinga Celia.
Farez melepaskan pelukannya dan kembali berjalan menjauhi Celia. Dia melambaikan tangannya dengan senyuman. Akhirnya Celia membalas lambaian itu dengan senyumnya yang paling manis. Apa lagi yang bisa dia lakukan ketika dia telah berusaha melupakan sosok itu dan tidak berhasil sama sekali? Celia terus menatap Farez yang saat ini terlihat benar-benar tampan dan keren dalam balutan kaus putih dan jacket birunya yang dipadu dengan jeans bewarna senada.
“Joya, aku harus bagaimana?” Celia berharap Joya mendengarnya.
Mereka tidak menyadari kalau dari tadi Joya bersama mereka. Joya menyaksikan semuanya, mendengar percakapan mereka. Mata Joya terlihat merah. Entah itu sedih atau marah. Tanpa pikir panjang Joya berlari menuju rumah Celia yang tidak jauh dari taman bermain itu. Dia harus sampai sebelum Celia.
“Selamat sore tante?” Joya menyapa mama Celia dengan napas menderu.
“Joya? Selamat sore. Apa kabar sayang? Kamu semakin cantik.” mama Celia menyambut Joya dengan ramah.
“Iya tante. Baik tante. Terima kasih. Apakah Celia ada di rumah?” Celia pura-pura bertanya.
“Dia tadi keluar. Kamu bisa menunggu di kamarnya. Tante akan menghubunginya.”
“Tidak usah dihubungi tante. Joya akan menunggu.” Joya kemudian berjalan menuju kamar Celia.
Joya mengamati kamar Celia yang saat ini dimasukinya. Tidak ada yang berubah. Tentu saja, sudah lima tahun Celia tidak menempati kamar ini. Semuanya masih sama, di dinding atas tempat tidurnya masih terdapat tempelan kertas yang mereka tulis bersama-sama, entah itu harapan atau cita-cita. Di meja kecil yang berada di sebelah tidur Joya masih terpajang foto mereka berdua. Namun, di sebelah foto itu juga terbingkai sebuah foto dimana Farez dan Celia saling tertawa lepas.
Joya melihat sebuah kotak di bawah tempat tidur Celia dan membuka kotak itu. Dia tau itu salah dan tidak sopan. Tapi dia hanya ingin tau seperti apa hubungan Celia dan Farez di masa lalu yang dengan tega dirusak oleh keegoisannya. Kotak itu berisi foto-foto Celia dan Farez yang dulu membuat Joya marah, sebuah buku tentang Romeo and Juliet, juga ada sebuah buku harian mungil. Dengan ragu Joya membuka buku harian itu. Dia membaca semuanya dan dia menyadari kesalahan yang telah dia buat. Celia mengenal Farez sejak SMP dan mereka berpacaran jauh sebelum Joya menceritakan tentang Farez padanya.
Maret 2005,
Aku jadian dengan Farez. ^_^
Tiba-tiba Celia muncul dan Joya menjatuhkan buku harian itu.
“Joya?”
Joya berlari menghampiri Celia dan memeluknya dengan tangisan terisak-isak.
“Maaf Celia. Maaf aku terlalu egois waktu itu. Aku yang merebut Farez darimu, aku yang membuat kalian berpisah. Aku..”
“Sudahlah Joy, aku sudah memaafkanmu. Itu sudah terlalu lama. Dan sekarang aku sudah punya kekasih baru. Bahagialah bersama Farez.” Celia membelai rambut sahabatnya itu.
“Tidak. Kamu yang harus bahagia dengan Farez..”
Celia tak menjawab. Dia tetap memeluk sahabat yang lima tahun tak pernah dijumpainya itu. Kemudian mereka bercerita tentang banyak hal dan hubungan mereka kembali seperti waktu itu. Tak ada dendam dan kesalahpahaman lagi di antara mereka berdua.
—
“Maafkan Aku Celia, selama beberapa hari ini aku sibuk dengan urusanku dan sedikit mengabaikanmu.” Ken tersenyum dengan sangat manis pada Celia yang saat ini duduk berhadapan dengannya. Celia hanya tersenyum tipis dan tidak membalas apapun.
“Cel, ada apa denganmu?” Ken menyentuh tangan Celia. Celia menghembuskan napas panjang.
“Tidak ada.” jawab Celia singkat.
“Oh iya, aku hampir lupa memberi tahumu. Minggu depan aku akan liburan ke Venesia bersama Danny dan yang lain. Jadi selama beberapa hari ini aku akan benar-benar sibuk. Kuharap kamu memakluminya.” Ken terus bicara tanpa mau tau apa yang sedang berkelebat di pikiran Celia.
“Tidak Ken. Ketika kamu pulang dari liburanmu, aku bukan lagi Celia-mu. Aku bukan lagi kekasihmu.” Celia menggeleng dengan cepat. Butuh banyak keberanian untuk mengucapkan kalimat itu. Dia tidak ingin menyakiti siapapun lagi. Cukup Joya saja yang merasa tersakiti olehnya.
“Apa maksudmu?” Ken menaikkan sebelah alisnya.
“Ayolah Ken, saat ini aku masih kekasihmu. Dan kamu sendiri tidak bisa memahamiku. Kamu selalu sibuk dengan teman-temanmu dan terus mengabaikanku setiap saat. Aku tidak bisa lagi menyandang status sebagai pacarmu.” napas Celia terdengar tidak teratur.
“Jadi maksudmu kita putus? Begitu?”
Celia hanya mengangguk kemudian berdiri dari duduknya. Ken dengan cepat menahannya.
“Kita belum selesai bicara. Jangan meninggalkanku begitu saja.” Ken bicara pelan. Dia menyadari kesalahannya dan tidak ingin gadis di hadapannya berlalu begitu saja.
“Maaf Ken, ada seseorang yang saat ini sedang menungguku.” Celia menepis tangan Ken yang berusaha menahan langkahnya.
“Siapa? Kekasih barumu?” selidik Ken.
Celia menggeleng dengan cepat kemudian berjalan tergesa meninggalkan Ken yang diliputi rasa bersalah dan penyesalan, karena tidak menjaga orang yang dia sayangi dengan baik.
—
“Aku minta maaf. Waktu itu aku tak seharusnya begitu. Aku seharusnya tak egois dengan perasaanku saat itu. Maaf Farez, maaf.” Joya berkata dengan nada bergetar. Air mata menggantung di ujung-ujung kelopak matanya.
“Sudahlah Joya. Yang penting sekarang hubunganmu dengan Celia sudah membaik. Begitupun aku dengannya.” Farez tersenyum.
“Ya, mulai sekarang aku berjanji tidak akan menjadi pengganggu dalam hubungan kalian. Mulai sekarang aku temanmu, seperti aku dan Celia. Baiklah aku pergi sekarang. Bersenang-senanglah dengan Celia. Kurasa dia sedang dalam perjalanan ke sini.” Joya melirik jam di pergelangan tangannya kemudian berjalan menjauhi Farez dengan lambaian tangan.
Setelah Joya berlalu, Farez hanya diam dan sesekali menggerakkan ayunannya dengan pelan. Diamatinya sekeliling. Taman bermain yang menyimpan banyak kenangannya dengan Celia di masa lalu.
“Hai Faz.” Celia mengagetkan Farez yang mengingat kenangan mereka.
“Oh hai. Kukira kamu tidak akan datang.”
“Aku pasti datang.”
“Jadi dia yang mengisi harimu ketika aku meninggalkanmu? Maaf aku mengikutimu.” Ken tiba-tiba muncul di tengah percakapan Celia dan Farez.
“Dia mengisi hariku jauh sebelum kamu mengenalku.” jawab Celia.
“Baiklah. Aku minta maaf telah membuatmu kecewa selama ini. Mungkin, ini semua pelajaran untukku. Di masa depan, aku tidak akan melakukan hal yang sama pada gadis-ku. Seperti apa yang aku lakukan padamu. Bersenang-senanglah.” Ken tersenyum kemudian beralih menatap Farez dan kembali tersenyum. Farez merasa pernah bertemu dengan Ken, tapi ingatan itu samar-samar.
“Maaf Ken. Dan terima kasih atas waktu empat tahun ini.”
“Itu tidak berarti apa-apa Celia. Aku hanya membuatmu kecewa. Sudahlah. Aku pergi sekarang. Sampai jumpa Cel. Dan..” Ken menunjuk Farez dengan sopan.
“Farez..” balas Farez seolah sudah mengerti dengan isyarat tangan Ken.
“Ah ya Farez, jaga Celia dengan baik. Baiklah, aku pergi.” Ken mengangkat tangan kanannya.
“Tunggu Ken. Dulu aku pernah bertanya padamu kenapa aku harus minta maaf. Sekarang aku tau, aku minta karena aku telah menabrakmu waktu itu. Dan maaf lagi, karena aku merebut gadis-mu.” Farez sedikit menunduk.
“Ya.. Hei, jadi waktu itu..?” Ken kemudian tertawa dan mengedipkan matanya ke arah Farez. Celia hanya mengerinyitkan dahi pertanda bingung. Tak lama Ken menjauh dan menghilang dari pandangan mereka.
Farez tersenyum kemudian meraih tangan Celia. Di genggamnya tangan itu dengan erat. Kemudian mereka berjalan bersama. Melanjutkan kisah masa lalu yang belum usai. Mereka bertemu bukan untuk mengucapkan kata selamat tinggal satu sama lain, tetapi mereka bertemu untuk mengucapkan kata selamat datang kembali. Dan benar, mereka menjadi Romeo dan Juliet masa depan dengan akhir kisah yang bahagia. Takdir pertemuan itu indah bukan?
Cerpen Karangan: Sahila Daniara
Cerpen Anak :)
Turutilah Kata Orang Tuamu
Lily Masih saja cemberut dari kemarin. Lily cemberut karena tidak dibelikan kue stroberi di toko kue dekat rumahnya. " Sudahlah nak kan kamu tidak menyukai kue yang rasanya asam campur manis seperti itu .. " Ucap mama tiba - tiba dari belakang. " tapikan ma .. " ucap Lily memiohon " sudahlah tak usah bakas kue itu karena hari ini mama memasak nasi goreng kesukaan-mu. " baiklah .. " ucap Lily tetapi tetap saja dengan wajah cemberut.
Di meja makan Lily masih saja cemberut padahal ada nasi goreng kesukaannya disana, ibunya, dan ayahnya. Ayah Lily yang melihatnnya langsung berbicara " Sudahlah .. kenapa dari kemarin kamu cemberut rerus Lily .. " Lilypun menjawab "karena tidak dibelikan kue stroberi di toko kue ". "sudahlah Lily kamu pasti tak suka kue itu karena rasanya asam campur manis .. " ucap ayah Lily lagi. "Tapi aku mau kue itu ! " ucap Lily lagi lalu lalu meninggalkan meja makannya dan pergi ke kamar. Padahal masih banyak nasi goreng tersisa di piringnya.
Tiba - tiba Mamanya Lily menemui Lily di kamar dan berbicara " Baiklah Lily Mama membelikan Kue Stroberi itu tapi tapi dengan satu syarat " " Apa itu " Ucap Lily "Kamu Harus menghabiskannya " " Ok " ocap Lily sambil mengedipkan sebelah mata.
Sesudah membeli kue stroberi Mamanya Lily dan Lily pulang ke rumah. sesampainya di rumah. Sesampainya di rumah Lily langsung melahap kue stroberi itu. Baru setengah kue Lily makan tapi ia sudah berhenti padahal ukurannya tidak besar. Mamanya Lily yang melihatnya langsung berkata " Ingat Syaratnya .. ". Lily diam dan berkata " Ma .. ini terlalu manis dan asam " " Nah .. kan sudah mama bilang .. ". Lily cemberut dan meminta maaf. Maka kue yang setengah dimakan Lily itu dimakan Mamanya Lily karena Mubazir bila dibuang.
Di meja makan Lily masih saja cemberut padahal ada nasi goreng kesukaannya disana, ibunya, dan ayahnya. Ayah Lily yang melihatnnya langsung berbicara " Sudahlah .. kenapa dari kemarin kamu cemberut rerus Lily .. " Lilypun menjawab "karena tidak dibelikan kue stroberi di toko kue ". "sudahlah Lily kamu pasti tak suka kue itu karena rasanya asam campur manis .. " ucap ayah Lily lagi. "Tapi aku mau kue itu ! " ucap Lily lagi lalu lalu meninggalkan meja makannya dan pergi ke kamar. Padahal masih banyak nasi goreng tersisa di piringnya.
Tiba - tiba Mamanya Lily menemui Lily di kamar dan berbicara " Baiklah Lily Mama membelikan Kue Stroberi itu tapi tapi dengan satu syarat " " Apa itu " Ucap Lily "Kamu Harus menghabiskannya " " Ok " ocap Lily sambil mengedipkan sebelah mata.
Sesudah membeli kue stroberi Mamanya Lily dan Lily pulang ke rumah. sesampainya di rumah. Sesampainya di rumah Lily langsung melahap kue stroberi itu. Baru setengah kue Lily makan tapi ia sudah berhenti padahal ukurannya tidak besar. Mamanya Lily yang melihatnya langsung berkata " Ingat Syaratnya .. ". Lily diam dan berkata " Ma .. ini terlalu manis dan asam " " Nah .. kan sudah mama bilang .. ". Lily cemberut dan meminta maaf. Maka kue yang setengah dimakan Lily itu dimakan Mamanya Lily karena Mubazir bila dibuang.
Langganan:
Postingan (Atom)